Satu Untuk Semua

160 Ribu Warga Mura Hampir Miskin

Silampari Online,

MUSI RAWAS- Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi (Susenas) ditahun 2017 yang lalu, sedikitnya 160 warga atau 39 persen masuk kategori hampir miskin. Kendati demikiab, untuk angka garis kemiskinan terjadi penurunan.

Hal ini disampaikan, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Aidil Adha saat diwawancarai Harian Silampari, diruang kerjanya, Rabu (11/4).

Dijelaskannya, untuk kategori warga hampir miskin itu didasarkan dari mata pencarian penduduk yang nyaris mendekati garis kemiskinan sebesar Rp392.740 ribu perkapita perbulan.

“Untuk penghasilan masyarakat 160 ribu jiwa itu masih diatas Rp392.740 perkapita perbulan. Namun apabila ada gejolak ekonomi bisa membuat masyarakat itu menjadi kategori miskin,” jelasnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, kendati ada 160 ribu warga yang hampir miskin. Namun, untuk angka kemiskinan di Mura tahun 2017 mengalami penurunan dari 14,30 persen menjadi 14,20 persen atau turun sebesar 0,6 persen.

“Disatu sisi untuk angka kemiskinan di Mura terjadi penurunan. Namun, setidaknya ada 160 ribu warga bila ada gejolak ekonomi akan berubah status miskin,” terangnya.

Menurutnya, untuk angka kemiskinan di Mura diakui melambat bila dibandingkan tahun 2016 ke tahun 2017. Dimana, penurunan yang tidak signifikan itu karena disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya karena banyak program Pemerintah yang belum dirasakan oleh masyarakat sepenuhnya.

“Bisa jadi program pemerintah sekarang sudah banyak yang tepat sasaran dan sudah sangat bagus. Namun penerapan dilapangan belum maksimal,” paparnya.

Selain itu, untuk menurunkan angka kemiskinan tentunya membutuhkan kerjasama antar lintas sektor. Sehingga, dengan begitu sasaran program yang digerakkan harus jelas dan harus bersentuhan dengan penduduk miskin.

“Salah satu contoh program bagus adalah Kartu Petani Makmur, diupayakan Rumah Tangga Sasaran (RTS) penerima kartu itu berdasarkan Basis Data Terpadu TNP2K (Tim Nasional Percepatam Penanggulangan Kemiskinan),” bebernya.

Kemudinan, cara yang kedua adalah, bagaimana cara pemerintah meningkatkan penghasilan petani dalam waktu dekat. Maka diakui salah satunya yakni menggalakkkan gerakan menanam. 

“Namun usia panen tanaman yang digalakkan harus jangka pendek. Seperti disela-sela kebun karet sawit itu bisa ditanam cabe, jagung dan bawang karena waktu panennya tidak lama,” paparnya.

Hanya saja, untuk sektor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan adalah hasil pertanian di Mura yang cendrung stagnan atau tidak mengalami perubahan.

“Memang penghasilan penduduk miskin tidak meningkat. Sedangkan, kebutuhan harga-harga semakin meningkat sehingga wajar penurunannya tidak signifikan,” ungkapnya.

Terlepas dari itu, dirinya mengakui untuk wilayah mana yang angka kemiskinannya paling tinggi maka tidak bisa merincikannya. Dimana, hal tersebut dikarenakan tahun 2017 lalu mereka tidak melakukan Suseda.

“Pada dasarnya Suseda baru dilaksanakan tahun 2018. Dimana, untuk persentase penduduk miskin banyak di Selangit. Namun kalau secara jumlah banyak di Kecamatan Megang Sakti dan Tugu Mulyo,” ungkapnya.

Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mura, Mahmud mengapresiasi dengan adanya penurunan angka kemiskinan di Mura dibawah kepemimpinan Bupati H Hendra Gunawan. Namun, disisi lain setidaknya ada 160 ribu warga yang hampir miskin menjadi Pekerjaan Rumah (PR) tersendiri agar tidak berubah status menjadi miskin.

“Kita harapkan program-program pemerintah yang ada dapat dimaksimalkan. Sehinggaa, setiap tahunnya angka kemiskinan di Mura terus berkurang dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” pungkasnya. (HS-02)

Anda Mungkin Menyukai Ini Juga