22 Warga Mura Terjangkit DBD

    164
    FOTO : KRISMANTO/HARIAN SILAMPARI
    DBD : Petugas Puskesmas C Nawangsasi Dinkes Kabupaten Mura sedang melakukan pemeriksaan terhadap salah satu warga Tugumulyo dari 22 warga Mura yang terserang DBD, Selasa (22/1).
    Advertisement

    Silampari Online,

    MUSI RAWAS– Peralihan musim dari kemarau ke penghujan membuat kasus Demam berdarah dengue (DBD) atau penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk meningkat signifikan. Bahkan, kurang satu bulan terakhir diawal tahun 2019 sedikitnya 22 warga Musi Rawas (Mura) terserang DBD.

    Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Hj Milpta Hulummi melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2L), Edward Julius mengatakan, untuk saat ini yang perlu diantisipasi yakni wabah DBD.

    “Untuk wabah DBD di Mura mengalami peningkatan kasus. Bahkan, bulan Januari ini sudah ada 22 warga yang terserang penyakit DBD,”jelas Edward saat diwawancarai Harian Silampari, Selasa (22/1) diruang kerjanya.

    Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bahwa setidaknya ada tiga Kecamatan yang memang menjadi perhatian khusus seiring dengan peningkatan kasus DBD diantaranya Kecamatan Tugumulyo, Muara Kelingi dan Muara Lakitan.

    “Memang untuk kasus DBD awal tahun ini cukup tinggi. Sehingga, dengan kondisi ini tentunya menjadi peringatan kita bersama khususnya kami Dinkes,”terangnya.

    Menurutnya, ditahun 2018 sedikitnya ada 100 orang terserang penyakit oleh gigitan nyamuk. Bahkan, dua diantaranya 2 meninggal dunia tepatnya di Desa Muara Kati dan Kecamatan Jayaloka. Karena memang, bilamana penanganan terlambat DBD bisa menyebabkan kematian.

    “Terpenting saat ini untuk masyarakat Mura agar segera berobat ke unit kesehatan apabila merasa demam tinggi tanpa penyebab yang jelas, ruam dan ulu hati sakit dan merupakan ciri-ciri utama terserang penyakit tersebut,”bebernya.

    Selain itu, untuk penyebab DBD ini karena virus dengue yang dibawa atau gigitan oleh nyamuk. Sehingga, apabila masyarakat tidak melakukan pemberantasan nyamuk maka kasus ini tidak akan bisa selesai. Sebab, Dinkes melalui Puskesmas C Nawangsasi menggulirkan inovasi gerakan bersih-bersih berantas DBD (Geber-Ber DBD).

    “Implementasi inovasi ini secara berkala petugas Puskesmas berkeliling Desa mengkampanyekan kepada masyarakat untuk pencegahan DBD melalui mobil ambulance Puskesmas,”bebernya.

    Kemudian, petugas juga memberikan bubuk abate ke tempat-tempat penampungan air yang tidak bisa di kuras dan melakukan gerakan satu rumah satu pemantau jemantik dan pemberantasan sarang nyamuk berkala (Jum’at Bersih). Sedangkan, untuk Desa yang sudah terinfeksi DBD maka Dinkes wajib melakukan fogging fokus dan dalam tahun 2019 ada 12 fokus fogging yang tersedia.

    “Fungsi fogging untuk membunuh nyamuk dewasa yang sudah terinfeksi virus dengue yang ada dalam nyamuk aedes agefty dan tentunya harus ada peran serta aktif masyarakat untuk memberantas tempat perindukan nyamuk dilingkungan masing-masing,”ungkapnya.

    Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mura, Yudi Pratama mendesak agar Dinkes Mura dapat melakukan penanganan cepat terhadap wabah kasus DBD. Apalagi, diawal tahun penyakit ini mengalami peningkatan kasus yang signifikan.

    “Disamping sosialiasi tentunya pencegahan dan penanganan harus lebih cepat. Apalagi, DBD merupakan penyakit yang menular dan bila tidak ditangani serius dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan,”pungkasnya. (HS-03)