70 Persen KIR Kendaraan Mati

    262
    RAZIA : Razia KIR kendaraan yang saat ini masih banyak ditemukan KIR yang dalam keadaan mati, Rabu (28/3). Foto : Badri/HS.
    Advertisement

    Silampari Online,

    REJANG LEBONG – Sebanyak 70 persen Izin Kelaikan Kendaraan (KIR) bermotor di Rejang Lebong dan Kepahyang sudah tidak berlaku atau mati. Untuk menertibkannya, Dinas Perhubungan bekerjasama Polres Rejang Lebong melakukan razia di Jalan Tabarena, Rabu (28/3). Alhasil, ada 40 angkutan barang terjaring razia.

    “Razia Gabungan yang kita lakukan pada tahun ini digelar sebanyak 12 kali dan untuk pelaksanaan sudah dilakukan sebanyak 3 kali dan tinggal tersisa 9 kali untuk menertibkan hingga 70 persen angkutan barang yang mati KIR ini,” ungkap Kabid Lalulitas Dishub RL, Rahmad Suryadi S Sos .

    Razia ini berdasarkan UU No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan pada pasal 53 ayat 1 memang mengatur “uji berkala diwajibkan untuk mobil penumpang umum, mobil bus, mobil barang, kereta gandengan, dan kereta tempelan yang dioperasikan di Jalan. Diperkuat dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 108/201 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

    Dijelaskan Suryadi, banyaknya kendaraan barang yang mati KIR ini lantaran banyak pengendara yang masih belum begitu tahu kegunaan KIR ini. Padahal KIR ini sangat diperlukan karena dalam enam bulan sekali kendaraan ini diuji kelayakannya mulai dari Rem, kaca, lampu dana kelayakan lainnya.

    “KIR kendaraan ini dikeluarkan ketika kendaraan tersebut layak. Jika tidak layak maka KIR ini tidak bisa dikeluarkan,” jelas Suryadi.

    Hal lain yang membuat KIR ini sambung Suryadi, masih diacuhkan oleh pengendara karena pihak Dishub sendiri tidak bisa terus melakukan razia KIR karena kewenangan Dishub sendiri hanya berlaku dalam terminal.

    “ Bisa melakukan penindakan atau razia itu hanya dalam terminal, sedangkan jika kita mau razia keluar terminal harus dikawal dengan kepolisian dan untuk anggaran razia gabungan sendiri dalam setahunnya hanya bisa dilakukan belasan kali,” tandas Suryadi. (HS-05)