Ajak Pelaku Seni Lestarikan Budaya

    219
    Sosialisasi Pengelolaan Kekayaan Budaya Lokal Daerah Kota Lubuklinggau tahun 2018, Selasa (25/9/2018). Foto : Doc/HS.
    Advertisement

    Silampari Online,

    LUBUKLINGGAU- Dinas Pendidikan dan Kebudsyaan (Disdikbud) Kota Lubuklinggau mengadakan kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Kekayaan Budaya Lokal Daerah Kota Lubuklinggau tahun 2018.

    Peserta yang dihadiri para pelakubseni, penggiat seni, komunitas budaya, komunitas sejarah, Dinas Pariwisata dan pecinta seni. Sebagai nara sumber dari Disdikbud Kota Lubuklinggau, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat, Pakar sejarah Iswandi dan beberapa pelaku seni kebudayaan lainnya.

    Sekretaris Dikda Disdikbud Kota Lubuklinggau H Rudi Erwandi mengatakan bahwa saat ini kegiatan ini dilakukan untuk pengelolaan kekayaan budaya lokal daerah yang ada di Kota Lubuklinggau.

    Dimana selama ini, sambung dia budaya lokal mulai tidak diminati dan takutnya hilang ditelan masa. Dengan adanya pelaku seni, pegiat seni ataupun semacam ini salah satu bisa membangkitkan kembali kebudayaan lokal yang mulai hilang itu.

    “Kita mensosialisasikan kepada peserta untuk bersama-sama mengembalikan dan mengelola kebudayaan lokal daerah Kota Lubuklinggau. Padahal banyak kebudayaan yang belum terpublikasikan,” ungkapnya.

    Ia mengakui bahwa jiwa seni orang terdahulu lebih hebat dari saat sekarang ini. Sebab, orang dulu memiliki makna dari setiap seni kebudayaan itu. Dibandingkan saat ini, pelaku seni sebagian banyak tidak mengetahui nilai-nilai dan makna apa yang terkandung serta tersirat di dalamnya.

    “Untuk itulah, kebudayaan lokal ini harus dilestarikan dan dikelola dengan baik. Sehingga, seni budaya daerah Kota Lubuklinggau tetap hidup hingga para generasi muda yang akan meneruskannya,” tambahnya.

    Sementara itu, Pakar Sejarah Iswandi menjelaskan tentang sejarah Kota Lubuklinggau hingga bahasanya seperti apa. Asal usul Kota Lubuklinggau dan kebudayaan tradisi daerah.

    Dijelaskannya, masyarakat Kota Lubuklinggau ini berasal dari Kawasan Situs Cagar Budaya Megalik dan Benteng Kuto Ulak Lebar. Masyarakat ini menetap dan hidup dikawasan tersebut dan meninggalkan jejak hasil budaya berupa Menhir-menhir berpasangan dan benteng kuto.

    “Sebagian besar generasi muda tidak mengetahui asal usul Kota Lubuklinggau. Kadang-kadang ada juga yang menulis sejarah Kota Lubuklinggau Asal-asalan. Saya yang lebih tahu awal mulanya Kota Lubuklinggau ini,” tegasnya.

    Banyak hal yang bisa diketahui mengenal misteri yang terkandung di kawasan Bukit Sulap itu yakni, Legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, Mitologi Raja Biku bergelar Delapan Dewa, Bujang Sembilan dan Rio Duablas, Depati Bodo Nyangka Lurah mendirikan Negeri Ulaklebar.

    Negeri Ulak Lebar, sambung dia dengan rincian Depati Karang Wedaro anak Temenggung Karang Ilir Palembang, Pensehat Agung Depati Bodo Nyangka Lurah, Silsilah Depati Bodo Nyangka Lurah, Bujang Momot anak Raja Majapahit dengan isterinya Seringgu Pisat , datang ke Ulaklebar:

    “Momot ini tinggal bersama Ginde Ilang di Kebon. Bujang Momot menikah dengan Dayang Ramelai puteri Depati Bodo X Himbat. Momot mendirikan Negeri Segara Muncar Selangit,” jelasnya.

    Ditambahkannya, Ulaklebar ini juga diramaikan oleh Pendekar Sakti yaitu, Moneng Imam Bakiluk dari Palembang, Bujang Burung Pinang dari Bengkulu, Bujang Kurap alias Embun Semibar dari Bangko dan Bujang Renggonang dari Muba.

    ” Intinya, sebagai generasi muda seharusnya mengetahui asal usul, sejarah, nilai-nai kebudayaan, cara tata tutur bicara dan masih banyak lagi nilai-nilai yang harus dipahami generasi muda ini apalagi pelajar, ” katanya.

    Sementara itu, Para Peneliti dari BPNB Sumbar Hasanadi menjelaskan bahwa BPNB Sumbar merupakan Balai Pelestarian Nilai Budaya. Dimana wilayah kerjanya meliputi Sumbar, Bengkulu dan Sumsel.

    “Bagi saya, generasi mudalah yang harus lebih mendalami sejarah dan seni kebudayaan yang ada di Kota Lubuklinggau. Jika tidak, maka sejarah dan seni tradisi kebudayaN ini akan hilang begitu saja,” pungkasnya. (HS-01)