Gambo Muba Tampil Memukau di Ajang Indonesia Fashion Week 2019

77
Advertisement

hariansilampari.co.id-Menyaksikan ajang Indonesia Fashion Week 2019 lalu, sejenak terlintas pekan pameran sama di negeri-negeri mode dunia. Paris Fashion Week, semisal. Lambungan mimpi ini mengajak penonton berpikir pada sebuah perayaan klimaks kasta haute couture, adi busana.

Adibusana (bahasa Prancis: haute couture; diucapkan [ot kutyʁ], pengucapan bahasa Inggris: [ˌoʊt kuːˈtʊər]) merupakan teknik pembuatan pakaian tingkat tinggi yang dibuat khusus untuk pemesannya. Ia menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik, dihiasi detail, dikerjakan dengan tangan, dan pembuatannya memakan waktu lama. Harganya? Luar biasa.

Menyaksikan Gambo Muba, produk asli Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang berasal dari Desa Toman Kecamatan Babat Toman, tampil di Indonesia Fashion Week, ini juga luar biasa.

Pertama, Gambo Muba semakin dikenal dan masuk peta karya anak bangsa. Meski belum masuk dalam jajaran elit dunia layaknya rumah mode di Paris yang punya aturan sangat baku dan ketat, kehadiran Gambo Muba di arena ini merupakan berkah bagi dunia mode Indonesia. Satu lagi ikon mode Sumatera Selatan tampil jadi pilihan disainer indonesia. Ingat, dunia moderen yang everything goes on android ini, di tangan disainer top Indonesia Gambo Muba akan segera bersliweran di laman media sosial kaum penikmat mode. Tentu, lewat medsos Gambo Muba mudah merambah ke dunia fashion internasional.

Pertama kalinya, Gambo Muba melenggang di ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2019. Tapi, watch out, ini ajang pergelaran fashion show terbesar se-Asia Tenggara, lho.

Bertempat di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu siang (28/03), Gambo Muba by Dovi Rustam sukses mengorbitkan Gambo Muba pada ajang pergelaran IFW 2019 sebagai trend fashion hasil desain terbaru inovasi Dekranasda Kabupaten Muba untuk musim tahun 2019.

Keindahan estetik dan nilai budaya yang dikemas anggun dan fashionable dalam brand busana by Dovi Rustam, tampak sangat menarik ditampilkan dan diperagakan oleh model-model internasional ternama dan brand ambassadornya.

Kecintaan dan komitmen yang tinggi dalam memajukan dunia mode, menyatukan kerjasama Dovi Rustam dan Dekranasda Kabupaten Muba dibawah kepemimpinan Hj Thia Yufada Dodi Reza.

“Ini adalah buah dari kerja keras dan kesungguhan Dekranasda Kabupaten Muba selama ini. Komitmen kami untuk mengangkat jumputan Gambo Muba ke level yang lebih tinggi dan membuat pelaku IKM Kabupaten Muba naik kelas, sudah dapat kami wujudkan saat ini. Kami akan terus mengangkat jumputan Gambo Muba sebagai trend mode brand dan kali ini ditampilkan pertama di IDFW,” ujar Thia.

Ketua Badan ekonomi kreatif Indonesia, Trinawan Munaf mengatakan Pemerintah akan selalu mendukung dalam setiap kegiatan dengan tujuan mengangkat nama indonesia.

“Melalui kegiatan IDFW kali ini mengangkat tema Borneo dapat kita lihat, melalui desain yang luar biasa kita makin bergairah dalam menggunakan busana produk indonesia. Dan tidak hanya para konsumen busana Indonesia yang bangga dengan produk indonesia, tapi para desain luarpun terpukau akan kain-kain produk asli indonesia, saya yakin masyarakat indonesia akan makin bangga menjadi tuan rumah dinegeri sendiri,”ucapnya.

Seperti diakui Thia Yufada, kini pihaknya sudah menaikkan kualitas dan imej produk pengrajin UKM ke level busana kelas butik yang limited edition. Ke depan Gambo Muba akan sampai pada kasta demi couture.

Jika haute couture tidak tersentuh, pilihan bagi masyarakat luas untuk menjangkau karya seni busana dengan harga yang lebih masuk akal ada? Tentu saja ya, sebab tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia fashion. Jawaban itu adalah demi-couture yang dibuat dengan bahan-bahan dan proses serupa dengan haute couture namun tanpa pengukuran yang spesifik dan personal.

Harga demi-couture dapat terpaut jauh dengan haute couture. Simak saja, rumah busana kelas Wahid seperti Neiman Marcus di AS, Colette di Paris dan Harrods di London, misalnya, menjual demi-couture yang dibuat untuk menyesuaikan ukuran standar dengan harga “hanya” 10 persen hingga 20 persen dari harga haute couture.

Pemerhati mode sekarang ini mau tak mau terpikat oleh daya tarik Gambo Muba. Dalam fashion kita mengenal Kredo yang berbunyi, seni selalu menemukan caranya untuk terjangkau khalayak ramai, begitu pula seni busana.
Jika demikian adanya, Gambo Muba yang sudah menjelma karya seni akan terus melesat ke posisi terhormat di komunitas mode Indonesia. Nah, jika karya seni Gambo Muba bersifat khusus maka hadirnya produksi massal kain Gambo dalam kelas kualitas rakyat pada umumnya adalah bentuk dukungan nyata industri ini.
Kedepan dekranasda Muba bertekad bahwa naiknya pamor Gambo Muba harus membawa manfaat bagi 227 desa se-Muba. Akan fokus di 1 village 1 product. Jadi 227 desa se-Muba akan mengangkat keunggulan masing2 dalam mengolah kain Gambo Muba. Ada desa yg fokus menjumput kainnya, ada desa2 yg fokus membuat motif inovasi jumputan, ada yg fokus membuat produk tas dan alas kaki dari Gambo Muba, ada yg fokus membuat handicraft dan aksesori lainya. “Ini tentunya peluang kita bersama yang jika kita komit bersama sama akan menumbuhkan pendapatan bagi warga kita setiap desa yang ada di Musi Banyuasin,” tuturnya. (KHS_02)