Heboh, Warna Air Sungai Musi tak Biasanya

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : DIAH/KONTRIBUTOR HARIAN SILAMPARI</div></small> <strong>LIHAT : </strong> Sejumlah pengendara ramai berhenti di atas Jembatan Musi I Tebing Tinggi, untuk melihat kondisi air Sungai Musi, Jum'at (21/6). Inzert : Kondisi Sungai Musi.

Silampari Online,

EMPAT LAWANG – Masyarakat di Tebing Tinggi khususnya yang berada di bantaran Sungai Musi, mendadak heboh. Pasalnya, air Sungai Musi yang mengalir membelah Ibukota Kabupaten Empat Lawang, tersebut keruh pekat tidak seperti biasanya, Jum’at (21/6/2019).

Muat Lebih

Pantauan Harian Silampari, kondisi air sungai yang bermuara di Kota Palembang tersebut, memiliki kekeruhan yang cukup pekat bahkan terlihat seperti bercampur minyak jika dilihat dari atas jembatan.

Meski demikian, tidak ada bau yang menyengat seperti bau minyak atau bau belerang atau bau bahan-bahan kimia lainnya dari air tersebut. Kemungkinan keruhnya air tersebut terjadi karena ada longsoran tanah terjadi di hulu sungai, meski keruhnya air sungai tidak seperti yang biasa terjadi.

Karena kekeruhan sungai berbeda dari biasanya, membuat masyarakat penasaran ingin melihat langsung hingga membuat kehebohan di tengah masyarakat.

Tidak hanya ingin melihat, beberapa warga lainnya memanfaatkan kondisi air sungai untuk menangkap ikan dengan alat seadanaya seperti jala atau tanggok ikan. Berkali-kali diantara warga yang menangkap ikan itu memamerkan hasil tangkapan, sebagai pertanda jika kondisi keruhnya air sungai berdampak pada habitat di dalam sungai.

“Heran juga lihat kondisi sungai, warnanya coklat dan kekuning-kuningan, ada juga hitam-hitamnya. Dak nyatu seperti ada minyaknya,” kata Komar, salah seorang warga sembari melihat kondisi air sungai di atas Jembatan Musi I Tebing Tinggi, kemarin.

Dikatakannya, kejadian air keruh sering terjadi, namun tidak seperti saat ini. Bahkan sebut dia air sungai biasa terjadi tercemar air belerang yang mengalir dari Gunung Api Dempo (GAD), hingga membuat ikan-ikan di sungai banyak mati.

“Biasanya sungai keruh seperti ini ketubean (tercanpur belerang, red), banyak ikan yang mati, karena belerang di Gunung Dempo mencemari sungai musi, cuma warna airnya tidak dua warna seperti ini. Kalau ketubean, itu bau belerang pun cukup menyengat, tapi inikan tidak,” jelasnya.

Lain halnya yang disampaikan Susan, warga lain justru menghawatirkan jika air musi mengalami pencemaran berat akibat adanya kegiatan industri di hulu sungai.

“Jika benar itu, tentu sangat disayangkan, bukannya menjadi manfaat bagi warga di sekitanya malah dirusak oleh oknum masyarakat itu sendiri,” cetusnya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Empat Lawang, Munfajir Ghozali saat dikonfirmasi melalui seluler mengatakan, fenomena tersebut kemunkinan adalah hal yang biasa terjadi, yakni ketubean.

“Perubahan warna air musi itu kemungkinan ketubean. Air musi tercemar akibat adanya aktifitas longsoran belerang di gunung dempo,” jelas dia

Karena saat ini dirinya tidak sedang berada di Empat Lawang, dia mengaku belum dapat memastikan yang sebenarnya terjadi di sungai itu. Hanya saja saat ini dia mengaku telah memerintahkan jajaran di DLH Empat Lawang, untuk memastikan penyebabnya.

Sementara itu, Kabid Penataan dan Penaatan Lingkungan, Heri Pratama menjelaskan, fenomema yang terjadi di Sungai Musi adalah kejadian yang biasa. Dia mengaku sudah mengecek Sungai Musi dan mengambil sampel air untuk dibawa ke laboratorium.

“Nanti akan kita bawa sampel air untuk kita cek di laboratorium,” tukasnya. (KHS-05)