Korban Banjir Terserang Gatal-gatal

98
Advertisement

Silampari Online,

MUSI RAWAS– Dua hari banjir yang merendam beberapa wilayah di Kabupaten Musi Rawas (Mura) membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Mura menerjunkan tim reaksi cepat (TRC) dan memerintahkan petugas kesehatan untuk melakukan penanganan dibidang kesehatan. Mengingat, saat ini sejumlah warga yang terdampak banjir terkena penyakit kulit gatal-gatal.

“Dinkes sesuai dengan protap kerja, itu memiliki kewajiban untuk menyiapkan kebutuhan-kebutuhan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang berdampak banjir,”jelas Kepala Dinkes Kabupaten Mura, Hj Milpta Hulummii melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Edward Zulius kepada Harian Silampari, Senin (18/2) diruang kerjanya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bahwa pihaknya melalui Puskesmas telah membentuk posko bencana kesehatan disetiap Desa yang terdampak banjir. Dinkes juga dari bidang pencegahan penyakit sudah membentuk TRC yang terdiri dari dokter, tim medis, surveilance, petugas lingkungan dan petugas gizi.

“Tim ini melakukan penanganan dan pengamatan secara terus menerus terhadap faktor-faktor resiko kesehatan yang memungkinkan timbul pasca banjir,”terangnya.

Menurutnya, pasca banjir biasanya masyarakat yang terdampak banjir alami penyakit berhubungan dengan kulit, batuk, pilek dan diare. Namun, sejauh ini laporan yang masuk mengenai penanganan kesehatan apa yang banyak ditangani disetiap posko bencana kesehatan yang buka 24 jam belum menyeluruh.
“Sejak banjir sudah ada posko dibuat. Seperti di Muara Kelingi ada tiga posko. Kebanyakan kasus penyakit jamur kaki dan dari lima pasien gatal-gatal pada kaki,”bebernya.

Hanya saja, masyarakat diharapkan pasca banjir biasanya terjadi pencemaran air minum dan sumber-sumber air minum. Sehingga diimbau agar mengkonsumsi, dimasak yang benar-benar matang.
“Jangan setengah-setengah untuk mematikan kuman-kuman,”ucapnya.

Kemudian, pasca banjir biasanya tempat perlindungan nyamuk tinggi. Sehingga, dengan kondisi ini maka akan sangat berdampaknya akan timbulnya DBD.

“Habis banjir, air naik. Maka ban, ember kemasukan air, jelas jadi tempat perlindungan nyamuk. Diharapkan masyarakat selain menjaga individu juga menjaga lingkungan disamping kami juga memberikan tawas untuk penjernihan air,”ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinsos Kabupaten Mura, Agus Susanto melalui Sekretaris, Herman didampingi Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan dan Jaminan Sosial, Evan Saipani menjelaskan bahwa kendati secara bantuan logistik siap. Akan tetapi, pihaknya menunggu laporan pasti terkait rumah yang terimbas banjir.

“Secara akuratnya kami minta laporan Desa dan memang sebagian laporan sudah ada. Namun, kami akan jemput bola untuk melakukan pendataan dan kroscek ke lapangan data yang ada dapat akurat,”tutur Herman.

Terlepas dari itu, untuk cadangan beras pemerintah (CBP) tersedia 100 ton setiap tahunnya. Dimana, untuk pengeluaran CBP ini ketika ada bencana besar melalui ditetapkan bupati agar nantinya bantuan tersebut dapat disalurkan sebanyak 5 Kg beras untuk 1 KK.

“Intinya untuk stok CBP ada di bulog. Namun untuk mengeluarkan ini harus ada koordinasi ke Pemerintah setempat. Dimana, untuk SOP penyaluran bantuan ini ketika sudah tiga hari terendam banjir baru bantuan ini dikeluarkan,” terangnya.

Terpisah Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mura, Paisol mengakui banjir ditiga wilayah kecamatan yakni Muara Kelingi, Muara Lakitan dan BTS Ulu Cecar, Senin (18/2) berangsur-angsur mulai turun. Meskipun penurunan tidak begitu signifikan.

“Untuk di Cecar turun debit air turun, di Muara Kelingi turun sedikit, di Muara Lakitan turun sedikit. Turun 10 sampai 15 cm,”aku Paisol.

Kemudian, banjir diwilayah Kecamatan Muara Kelingi merendam Desa Pulau Panggung, Kelurahan Muara Kelingi di RT 1, 2 dan 3. Lalu banjir juga merendam Desa Bingin Jungut. Sedangkan untuk diwilayah Kecamatan BTS Ulu Cecar yakni di Desa Pelawe, Sadu dan Ketoya.

“Turun sudah signifikan. Laporan relawan sekitar semeter dua meter,” terangnya.

Diwilayah Kecamatan Muara Lakitan banjir yang merendam beberapa desa juga turun antara 5 sampai 10 cm. Yakni di Prabumulih 1, Semangus Lama. Banjir juga merendam jalan di Desa Sungai Pinang dan Bendingan.

“Parah dikecamatan lakitan yakni prabumilih 1 dan semangus lama agak parah itu,” timpalnya.
Sementara itu tingginya debit air sungai Musi diwilayah Kecamatan Muara Lakitan juga membuat jembatan gantung sepanjang 200 meter di Desa Sungai Pinang terendam air. Jembatan tersebut merupakan jembatan akses jalan untuk ke kebun. Belum bisa dilintasi, terendam masih,”pungkasnya. (HS-03)