Kritik Sistem Zonasi

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : DOC/HARIAN SILAMPARI</div></small> Suasana PPDB SMPN 2 Lubuklinggau tahun lalu, dimana orang tua dan anak melihat pengumumam kelulusan.

Silampari Online,

LUBUKLINGGAU – Banyak orangtua siswa keberatan dengan penerapan sistem zonasi dalam PPDB (penerimaan peserta didik baru) Tahun Ajaran 2019/2020.
Menurutnya sistem zonasi dianggap memberangus impian calon siswa mendaftar di sekolah favorit yang mereka tuju.

Muat Lebih

Rahman (48) warga Kelurahan Batu Urip Kecamatan Lubuklinggau Utara II mengkritik bahwa tidak hanya orangtua yang menjadi korban dalam peneriman sistem baru zonasi PPDB. Tapi juga calon siswa.
Dikarenakan calon siswa sudah berupaya belajar dengan baik dan berusaha mendapatkan nilai terbaik saat ujian nasional berbasis komputer. Ikut bimbel juga . dengan harapan dapat diterima di sekolah yang diinginkan.

Namun, dengan adanya sistem zonasi, dirinya mengkhawatirkan anaknya sulit untuk diterima di SMPN 2 Lubuklinggau yang berada di Kecamatan Lubuklinggau Timur I.

“Anak saya SD di megang, tentu kalau berdasarkan zonasi, tidak masuk, namun anak saya ingin sekali sekolah di SMPN 2, nilai ujian sekarang tidak diperhitungkan lagi,”ketusnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lubuklinggau Tamri beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa PPDB tahun ini berdasarkan Peraturan Menteri nomor 51 tahun 2018 tentang PPDB menggunakan sistem zonasi.

“PPDB kali ini yang pertama kali mengutamakan zonasi, lalu usia, nilai dan terakhir prestasi,”terangnya.

Dirinya mencontohkan, sistem ini, yakni SMPN 1 , dimana orang yang berdekatan dengan SMPN 1 ini lebih diutamakan. Jikalaupun misal, ada dari calon siswa dari ceremeh mau ke SMPN 1, berdasarkan kuota nya ada 5 persen untuk itu, namun mesti sesuai dengan kartu keluarga 6 bulan terakhir.

“Mesti KK nya keluaran 6 bulan terakhir,”terang Tamri.(HS-02)