Mengenal Efranto Wijaya Petani Penghasil Minyak Nilam

  • Whatsapp
<small> <div style="text-align:right;">FOTO : ADI/HARIAN SILAMPARI</div></small> <strong>MINYAK SALAM : </strong> Efranto Wijaya seorang warga Desa Muara Nilau Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas, penghasil minyak Salam, Jumat (10.5).

Dari Coba-Coba Hingga Membuahkan Hasil

Silampari Online,

Muat Lebih

Efranto Wijaya salah satu warga Desa Muara Nilau Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas, Ia mencoba menanam sebuah daun nilam, hingga akhirnya membuahkan hasil. Berikut Laporanya.

Adi Arianza – Musi Rawas

Pagi Wartawan Harian Silampari sengaja menemui Efranto Wijaya petani penghasil minyak nilam,Jum’at(10/2).

Tiba di lokasi, saya disambut ramah oleh Wijaya petani nilam tersebut. Setelah berbasa-basi, Efranto ditanyai sejak kapan memulai usaha minyak nilam.

“Saya memulai Usaha minyak nilam pada tahun 2017, mulai dari coba-coba, ahirnya menghasilkan uang, maka diperbanyak lagi kebun Nilan,”ujarnya,

Sampai saat ia bisa memperkerjakan seorang untuk mengurus kebun nilamnya sampai panen.

Efranto menjelaskan daun salam merupakan sala satu tumbuhan semak tropis, penghasil jenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam.

Minyak nilam dikenal sebagai minyak warna kuning, minyak dari daun nilam di disuling menjadi minyak yang bisa di jual.

Peroses menyuling minyak nilam butuh waktu lama, daun silamn di iris kecil-kecil, setela itu di jemur selama 3 hari baru masuk proses penyulingan.

Untuk proses penyulingan itu sendiri, daun nilam yang kering di rebus mengunakan air, dengan alat penyulingan yang sudah di sediakan dengan waktu 6 jam.

“Daun nilam di rebus dan wab rebusan nantinya memisakan dan menghasilkan miyak nilam, sekali merebus itu bisa mendapat 7 on,”ungkapnya.

Minyak nilam memiliki aroma yang sangat kuat dan biasa digunakan sebagai bahan membuat wewangian (parfum), bahan kecantikan, hinga menjadi obat kesehatan serta ramuan herbal.

Harga jual minyak nilam termasuk lumayan mahal biasa ia jual dengan harga Rp. 600 Ribu per satu kilogramnya.

Saat di tanyai berapa lama memnanm nilam sapai panen, ia mengataka “Dengan waktu enam bulan dan baru bisa penen, dan 3 bulan selanjutnya lagi baru bisa panen lagi,”ungkapnya. (*)

Pos terkait