Menggenal Mardi Seorang penggiling Padi

36
FOTO : ADI/HARIAN SILAMPARI
PENGGILING PADI : Mardi,, terlihat sedang melakukan peroses penjemuran padi di desa Air Satan, Kecemtan Mura Beliti, Kabupaten Musi Rawas. Jumat (15/3)
Advertisement

Upah Seminggu Rp 300 Ribu

Masa panen padi yang ditunggu-tunggu oleh petani ternyata tidak hanya menjadi berkah bagi petani saja, penggiling padipun ikut merasakan.

Adi Arianza – Musi Rawas

Hampir bisa dipastikan, tempat penggilingan padi akan selalu ramai jika waktu panen datang. Salah satunya penggilingan padi di Desa Air Satan, Kecematan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas.

Mardi salah seorang pegawai penggilingan padi tersebut mengungkapkan ia sudah bekerja di penggilingan padi ini sejak tahun 1970.

“Ini tempat kakak ipar saya, Mas Bambang, saya bekerja disini beserta tiga karyawan lainnya,”ungkap Mardi.

Menggiling Padi, tidaklah mudah, membutuhkan proses yang lumayan lama. Sebelum digiling, terlebih dahulu, padi mesti dijemur selama tiga hari jika cuaca baik.

“Proses penjemuranpun harus dijaga takutnya jika terjadi hujan, kalau cuaca tidak mendukung, bikin susah sampai 5 hari, apalagi saat musim hujan, kalau tidak ada karyawan susah sekali,”ungkapnya.

Setelah selesai menjemur, padi dimasukan kedalam karung, barulah di bawa ke mesin penggilingan hingga menjadi beras.

“Dalam menggiling padi, cepat atau lambatnya tergantung dari kualitas padi, jika bagus maka satu karung bisa sampai 60 Kg,”bebernya.

Setelah menjadi beras, maka penggiling mengambil keuntungan dari hasil warga pemilik padi sebesar 10 persen untuk upah penggilingan sampai jadi beras.

“Kalau lagi panen 50 sampai 100 karung kami jemur,lalu dijual dan bagi hasil pada pemilik penggiling dan karyawan lainnya,”akunya.

Dalam satu minggu mardi bisa mendapatkan upah sebesar Rp 300 ribu. Selain menggiling, untuk mencukupi kebutuhan hidup, Mardi juga membajak sawah, dan antar muat durian.(*)