Satu Untuk Semua

Miris, Penderita Buerger Disease Terlantar

Silampari Online,

EMPAT LAWANG – Sungguh malang yang dialami Zulkarnain (34), warga Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, harus merasakan getirnya kehidupan. Dia diduga mengidap penyakit Buerger Disease cukup parah dan saat ini belum juga tertangani tindakan medis.

Padahal, dengan kondisi penyakit yang dialaminya yang cukup parah dan sudah membuat sebagian kakinya membusuk, dia harusnya dirawat intesif di rumah sakit.

Saat ini, Zulkarnain harus menumpang di rumah bibinya di Desa Muaralintang Lama, Kecamatan Pendopo, karena diduga ditolak pihak Rumah Sakit, pasca dievakuasi warga di salah satu pondok tengah sawah di wilayah Desa Tanjung Eran, Kecamatan Pendopo sekitar satu minggu lalu.

“Aku di pondok tengah sawah itu, karena sudah tidak tahu lagi mau ke mana. Selama di pondok tengah sawah itu, cuma mengadalkan makan dari pemberian orang yang iba dengan aku,” cerita Zulkarnain, kepada Harian Silampari saat ditemui di rumah bibinya, Minggu (1/4).

Kembali diceritakannya, dulunya dia berkebun kopi di Talang Cogong Meranti, kawasan Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Karena sakit, akhirnya dirinya memutuskan pulang ke kampungnya di Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang. “Karena penyakit ini, saya ditinggalkam istri dan ayah saya juga tak mampu merawat saya akhirnya membawa saya, lalu meninggalkan saya di suatu tempat, didekat persawahan di Desa Tanjung Eran,” ucapnya lirih.

Salah seorang warga Kecamatan Pendopo, Waton (47) menceritakan awalnya dia menemukan Zulkarnain ini di pondok tak berpenghuni di Desa Tanjung Eran, dari cerita warga lain.

“Dari cerita dia, Zulkarnain ini mengidap penyakit ini sejak 2016 lalu. Namun karena tidak diobati, kondisinya semakin parah hingga jari kakinya membusuk dan menurut saya harus diamputasi,” ujar Waton.

Persoalannya lanjut Waton, hingga saat ini dana pengobatan untuk Zulkarnain ini, tidak ada, karena memang dia tidak mampu. Sementara, pihak pemerintah baik Dinas Kesehatan maupun Dinas Sosial, belum juga merespon laporan yang dia sampakan hingga saat ini. “Saya pernah dijanjikan pihak Dinsos Empat Lawang, katanya akan mengevakuasi Zulakarnain untuk diobati, tapi hingga saat ini, petugas dari Dinsos belum juga datang menjemput Zulkarnain,” imbuhnya.

Sementara, Camat Pendopo Kabupaten Empat Lawang, Asnan Gozi saat ditemui di Rumah Dinas Camat menagatakan, dia memang mengetahui ada warganya yang miskin mengalami sakit cukup parah. Namun demikian, dia tahu dari laporan warga yang menceritakan ke dirinya tentang kondisi Zulkarnain.

“Saya tidak pernah dapat laporan langsung dari kadesnya, saya tahu dari cerita warga lain. Seharusnya, kadesnya harus pro aktif untuk membantu warganya,” cetus Asnan.

Asnan mengakui, sejauh ini dirinya belum melakukan upaya apapun untuk membantu Zulkarnain dan selaku camat tentu saja dia mengapresiasi warga yang mau membantu Zulkarnain, baik bantuan uang atau sebagainya. “Kita akan upayakan komunikasi dengan pihak Dinsos, bagaimana jalan terbaiknya,” katanya.

Sementara itu, Manager NGO Revolutioner wilayah Kabupaten Empat Lawang, Zarkasih menyesalkan lambannya respon Pemerintah Kabupaten Empat Lawang, mengatasi permasalahan yang menimpa salah seorang warga tidak mampu di kabupaten ini.

“Mestinya, Zulkarnain ini segara ditangani secepatnya. Bukan didiamkan saja seperti ini, apa lagi cerita yang dialami Zulkarnain ini, sudah nyebar di Medsos,” sesalnya.

Apalagi, lanjut pria yang akrab disapa Emet tersebut, Zulkarnain sempat terlantar dipondok tak bertuan di tengah persawahan, ini cukup miris kedengarannya. “Kabupaten kita ada dua rumah sakit, sangat tidak mungkin, untuk mengobati orang yang tidak mampu seperti Zulkarnai ini saja tidak bisa, aneh kedengarannya,” tukasnya.(HS-04)

Anda Mungkin Menyukai Ini Juga