Pajak GrabFood Naik, Pengusaha Putuskan Kontrak

Silampari Online

Muat Lebih

LUBUKLINGGAU – Akibat naiknya pajak GrabFood sebesar Rp 30 ribu membuat driver ojek kewalahan dengan tarif sebesar itu. Akibatnya, sebagian pengusaha makanan yang sudah menjalin kerja sama, terpaksa memutuskan hubungan kerjanya. Salah satunya, Jaman Siap Saji Kelurahan Dempo, Kecamatan Lubuklinggau Timur II.
Hal ini diungkapkan salah seorang driver grab yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Harian Silampari. “Memang pajak sudah naik, sekarang pajaknya menjadi 30 persen,”ungkapnya kepada Harian Silampari, Selasa (16/7).


Lebih lanjut, ia menjelaskan, sebelumnya seorang konsumen memesan makan melalui grab hanya dikenai sebesar Rp 6.000 dan sekarang menjadi Rp 3.000.


“Misalnya, ada konsumen pesan Nasi geprek Rp.10.000, biasanya total seluruhnya Rp.16.000 sekarang pajak 30 persen itu, maka, konsumen membayar sebasar Rp.13.000 saja,” jelasnya.


Itulah makanya, sambung dia, ada beberapa pengusaha yang bekerja sama dengan grab ini banyak tutup. Sebab, sistemnya bukan seperti dulu lagi, langsung tunai dibayarkan oleh driver grab ke pelaku usahanya.
“Kalau dulukan tunai diberikan, kalau sekarang langsung pihak grabnya yang membayarkan. Jadi, setiap driver itukan memiliki saldo, nanti Rp.13.000 itu langsung dipotong dari rekening driver dan langsung dibayarkan ke pelaku usaha,” katanya.


Dijelaskannya, dari segi driver grabnya, namanya manusia pasti ada yang baik dan ada juga kurang baik. “Misalnya, oknum driver yang kurang bertanggungjawab itu bersama pembeli hanya sekedar berpura-pura memesan makanan melalui grab disalah satu tempat, namun dia bukan membeli. Kalau di MAP betul dia ditempat. Otomatis pelaku usaha ini yang rugi harus membayarkan Rp.3.000 itu, padahal orangnya tidak membeli,” paparnya.
Hal senada diungkapkan Juj, seoranf Driver Grab. Dia mengeluhkan, adanya peraturan baru terkait pengenaan pajak. Pelaku usaha kecil menengah banyak yang memutus aplikasi jaringan grab, sebab harga jual produknya lebih mahal karena konsumen dikenakan tambahan pajak.


“Wah, susah sekarang mas (wartawan, red). Banyak pemilik usaha makanan tidak buka aplikasi grab, mereka takut kemahalan sehingga berdampak pada pelanggan setianya,” ucapnya.


Sementara itu, pemilik rumah makan sate di Taba Pingin, Nn, mengaku, tetap menggunakan aplikasi grab, namun tarif harga dinaikkan sesuai pengenaan pajak konsumen. “Ya, kalau mau murah langsung datang ke kedai,” ujarnya.
Wartawan Koran ini mengkonfirmasi pada pemilik Jaman Siap Saji Dempo, Jaman. Dia tidak menampik, apa yang disampaikan driver grab memang benar adanya. “Memang pernah terjadi seperti itu, makanya saya tutup (putus) kerja sama dengan grabnya,” pungkasnya. Namun sayangnya, hingga berita naik cetak belum ada konfirmasi pihak grab.