Penjara 6 Tahun dan Denda Rp1,2 M Menanti Perusak Sungai

40
Ketua LPPAS Muratara, Samsul Bahri . Foto : Sha/HS.

Silampari Online,

MURATARA – Sudah sangat jelas bagi oknun yang mencemari, merusak kelestarian sumber daya ikan dan biota lainnya serta lingkungan wilayah perairan, disanksi undang-undang nomor 31 tahun 2014 tentang perikanan, pasal 4 ayat 1 dengan ancaman pidana 6 tahun penjara dan denda Rp1,2 miliar.

Ketua LPPAS Muratara, Samsul Bahri SH mengatakan, berdasarkan surat edaran keputusan Bupati Musi Rawas Utara, setiap orang atau badan hukum dilarang melakukan kegiatan penangkapan atau pembudidayaan ikan dan biota lainnya dengan menggunakan bahan atau alat yang dapat membahayakan mencemari merusak kelestarian sumber daya ikan beserta biota lainnya dan lingkungan khususnya di Wilayah perairan Kabupaten Musi Rawas Utara

“Adapun bahan dan alat yang dimaksud dalam ayat 1 adalah bahan kimia putar, lanet dan bahan kimia sejenisnya serta bahan biologis racun ikan dari tumbuh-tumbuhan seperti tua dan sejenisnya serta alat jaring penangkap ikan atau sejenisnya yang berukuran panjang 15 M dengan diameter lubang Jaring 2 inc ke bawah tidak diperbolehkan,” urainya.

Selanjutnya, penangkapan ikan dengan menutup sungai dan air sungai atau ambat daging babi alias gebung, juga sentrum mesin maupun aki pukat harimau. Selanjutnya untuk kepentingan kelestarian sumber daya ikan di perairan Umum Kabupaten Musi Rawas Utara, setiap orang dilarang membudidaya dan memasukkan jenis ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan lainnya di perairan Umum.

Ia mengaku pengawasan sumberdaya ikan Pasal 6 ayat 3 Apabila tidak diindahkan sesuai dengan undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 2014 tentang perikanan pasal 4 ayat 1 akan dipidana 6 tahun penjara dan denda Rp1,2 miliar.

“Pengelolaan dan pengawasan sumberdaya ikan perairan umum Pasal 6 ayat 4 penutupan sementara bagian tertentu dari penangkapan ikan dengan maksud untuk memberi kesempatan bagi ikan-ikan mudah untuk tumbuh dan berkembang biak dan peraturan penangkapan ikan di mana hanya diperolehkan pada bulan-bulan seperti pada akhir tahun yaitu bulan bebas menangkap ikan,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan ngemen sungai dan anak Sungai Lebak Lubung berdasarkan peraturan tersebut di atas diberikan kepada seluruh masyarakat Muratara agar tidak menangkap ikan yang berdampak merusak lingkungan yaitu penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak kimia biologis atau meracuni badan perairan sungai penangkapan ikan dengan cara setrum lanet dan pukat harimau.

Sementara salah seorang masyarakat desa Biaro, Zaida (34) mengatakan, ia apresiasi LPPAS kabupaten Muratara, selama sering melakukan razia penyentruman ikan di sungai-sungai. Saat ini sebut dia, masyarakat sudah mudah mendapatkan ikan di sungai walaupun dengan cara memancing.

“Saya berharap kepada LPPAS kabupaten muratara teruslah lakukan razia agar tidak ada lagi pelaku penyentruman ikan di sungai, jangan gara-gara satu orang pelaku penyentruman masyarakat banyak susa untuk mencari ikan,” pungkas. (HS-12)