Satu Untuk Semua

Petani Jagung Kesulitan Jual Hasil Panen

Silampari Online,

EMPAT LAWANG – Petani Jagung di Kabupaten Empat Lawang, mengaku kesulitan menjual hasil panen, saat musim panen jagung tiba. Hal ini dikarenakan, saat ini para petani jagung terpaksa menjual hasil panen mereka ke pengepul asal Kota Lubuklinggau, lantaran di Kabupaten Empat Lawang sendiri, tidak ada pengepul hasil panen jagung.

Seperti yang diungkapkan Safa’ah, salah seorang petani jagung asal Desa Lampar Baru Kecamatan Tebing Tinggi, mengaku setiap panen dirinya selalu menantikan pengepul asal kota Lubuklinggau, untuk membeli hasil panennya. Hal inilah yang sangat disayangkan oleh Safa’ah, sebagai petani Jagung, Safa’ah sangat berharap di Empat Lawang ada pengepul jagung.

“Saya sangat berharap di Empat Lawang ada pengepul Jagung mbak. Sangat disayangkan jika setiap panen kita harus menunggu pengepul dari kota Lubuk Linggau untuk membeli Jagung ini,” ungkap Safa’ah, Selasa (13/3).

Safa’ah mengatakan, setiap kali panen dirinya berhasil memanen jagung kisaran 7 ton. Sebelum menjual hasil panen tersebut, biasanya dia menjemur terlebih dahulu bahan baku pakan ternak itu hingga kadar airnya sangat rendah. “Sejak memasuki musim penghujan, menjadi salah satu kendala, sebab saat ini proses pengeringan masih sangat mengandalkan sinar matahari,” akunya.

Mengenai harga, Safa’ah menjual dengan harga kisaran Rp 2 ribu sampai dengan Rp 4 ribu per kilogram-nya. Bergantung dengan hasil panen dan kualitas jagung. “Kisaran Rp 2 ribu sampai dengan Rp 4 ribu perkilogram-nya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang, Drs Hamdan mengakui kesulitan para petani di Kabupaten Empat Lawang, terhadap pemasaran hasil panen jagung setiap kali musim panen tiba.

“Iya, kita akui salah satu kesulitan para petani jagung kita itu terkait pemasaran. Kita berharap kedepannya hasil panen jagung kita dapat mudah terserap, sehingga dapat menambah keaejahteraan para petani jagung kita,” ungkap Hamdan.

Di Kabupten Empat Lawang sendiri, pada tahun 2018 ini kata Hamdan, ada beberapa irigasi akan direhab. Ini artinya bakal banyak lahan persawah tidak bisa ditanami padi. 

“Terutama di kawasan Tanjung Ning Kecamatan Saling, irigasinya akan direhab. Kita alihkan para petani tanam jagung untuk menggati tanaman padi sementara irigasi direhab, melalui program upsus jagung. Tapi masalah yang dihadapi petani, itu terkait penjualan hasil panen nantinya,” jelasnya. (HS-04)

Komentar
Loading...