Produksi Kopi Robusta Capai 2 ton Pertahun

  • Whatsapp
<small> <div style="text-align:right;">FOTO : BADRI/HARIAN SILAMPARI</div></small> <strong>OLAH : </strong>Tampak Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan kabupaten Rejang Lebong Taman (pakai peci hitam ) didampingi kabid perkebunan M.Yusuf meninjau pengolahan penjemuaran kopi Robusta oleh anggota Kelompok tani desa Empat Suku Menanti kecamatan Sindang Dataran.

Silampari Online,

REJANG LEBONG – Luasan areal perkebunan kopi di 15 kecamatan sekabupaten Rejang Lebong (RL) mencapai 23.558 hektare yang terdiri dari perkebunan kopi tersebut terdiri dari perkebunan kopi robusta seluas 23.037 hektare, dan 521 hektare perkebunan kopi arabika.

Muat Lebih

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan RL M Yusuf mengatakan luasan area perkebunan kopi di Rejang Lebong ini tersebar dalam 15 kecamatan, dengan jumlah produksi pertahunnya mencapai 16.462,9 ton dengan sebaran perkebunan kopi untuk luasan terkecil berada di Kecamatan Curup yang hanya berkisar 0,25 hektare.

“ Sedangkan perkebunan kopi dengan luasan lebih dari 2.000 hektare antara lain di Kecamatan Padang Ulak Tanding, Sindang Beliti Ilir, Kota Padang, Selupu Rejang, Bermani Ulu dan Bermani Ulu Raya, Sindang Kelingi dan Kecamatan Sindang Dataran,” Ungkap M.Yusuf.

Sementara itu, untuk pengembangan kopi arabika saat ini baru ditemukan dalam empat kecamatan yaitu Curup Selatan, Selupu Rejang, Sindang Kelingi dan Kecamatan Sindang Dataran.

“ Kalau produksi kopi robusta terutama yang sudah distek dalam satu hektarenya per tahun bisa menghasilkan 1,8 sampai 2 ton, kalau kopi arabika per hektarenya per tahun berkisar 750 kg biji kopi,” sambung M.Yusuf.

Sementara itu, dari jumlah produksi kopi yang dihasilkan petani kopi di Rejang Lebong pada 2018 lalu sebanyak 16.462,9 ton, diketahui 90 persen adalah kopi robusta yakni sebanyak 14.822,654 ton dan 1.640,2 ton kopi arabika.

“ Ke depannya akan ada investor pengolahan kopi yang mau menanamkan investasinya di Rejang Lebong sehingga pemasaran produksi kopi yang dihasilkan petani setempat dapat terserap maksimal dan tidak lagi dijual ke luar daerah dalam bentuk bijian.” Singkat M.Yusuf.(HS-06)

Pos terkait