Rekontruksi Adik Bunuh Kakak

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : ELPAN/HARIAN SILAMPARI</div></small> Ibu Tersangka Sasra Effendi mengecek kondisi korban Nasution, saat tersangka melakukan penganiayaan. Kondisi ini saat diperagakan dalam rekontruksi Kamis (11/4), di TKP.

Silampari Online,

LUBUKLINGGAU – Tersangka Sastra Efendi alias Pendi (22) menangis dan memeluk erat Ibunya yakni Yani, usai pelaksanaan rekonstruksi di rumahnya di Jl Kenanga 2, Batu Urip Permai, RT 04, No 43, Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara 2, Kamis (11/4).

Muat Lebih

Seperti diketahui, tersangka Pendi membunuh kakaknya yakni Nasution (30) pakai kayu dan batu hingga tewas. Kejadian di rumah mereka pada Selasa (26/3) sekitar pukul 20.00 WIB. Korban dan tersangka adalah saudara satu ibu lain bapak. Tersangka khilaf lantaran korban sering memeras, meminta uang dengan sang Ibu.

“Sampai hari ini aku dak cayo, aku khilaf,” kata Pendi menangis usai rekonstruksi.

Sebelumnya, Pendi sempat berpamitan dengan sang Ibu usai pelaksanaaan rekonstruksi untuk kembali lagi ke sel tahanan Polsek Lubuklinggau Utara. Tersangka Pendi memeluk dan menundukan kepala di pundak ibunya itu sembari meminta maaf.

“Aku mintak maaf samo mamak,” katanya lagi menangis.

Dalam rekonstruksi atau reka ulang yang dilaksanakan pukul 14.00 WIB itu disaksikan warga sekitar. Termasuk keluarga dari tersangka. Pelaksanaan berjalan lancar, berlangsung sekitar satu jam. Ada 22 adegan dalam rekonstruksi itu. Diperankan tersangka dan dua saki yakni sang Ibu (Yani) dan sang Ayah (M Sukri).

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono melalui Kapolsek Lubuklinggau Utara, AKP Harison Manik mengatakan dari hasil adegan rekonstruksi, tersangka menghabisi kakaknya karena tidak sampai hati melihat sang Ibu sering diperasi, dimintai uang. Dan puncaknya saat kejadian, tersangka melihat korban tengah mengancam ibunya dan hendak memukul pakai batu.

“Melihat itu, dia langsung mengambil kayu, memukul daripada korban,” terangnya.

Dalam rekonstruksi itu, keterangan saksi dalam adegan telah sesuai. “Jadi membuat lebih terang lagi tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka. Dalam perkara ini kita sangkakan pasal utama sementara pasal 338 yaitu pembunuhan karena kita lihat beum ada waktu direncanakan untuk melakukan daripada menghilangkan nyawa orang lain. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun,” jelasnya.

Sementara itu ayah dari tersangka yakni Sukri berharap hukuman yang akan diterima anaknya itu agar dapat ringan. “Minta hukuman ringan. Dio baek sehari-hari, tulang punggung keluarga, kerjanya serabutan. Pengennyo dio bebas karena dio bela Ibu,” pintanya.

Selain itu, selaku Ayah, Sukri mengaku hampir setiap hari menjenguk anaknya itu disel tahanan Polsek Lubuklinggau Utara. “Kalau aku dak betemu dengan dio, makan bae dak galak. Makonyo setiap hari ketemu. Dio galak ngomong dengan aku kalau pas dijenguk, mintak aku jangan banyak igo pikiran,” ungkapnya.

Selain itu, sang Ayah juga acapkali diingatkan tersangka agar berhati-hati selama bekerja. “Katonyo takut bapak ditumbur motor pulok dang dorong gerobak. Kasian mamaknyo, galak dak makan kalo dak disuruh makan,” celetuk Sukri menangis.

Seperti diketahui, kejadian bermula saat korban meminta uang dengan Ibunya Rp20 juta sambil marah-marah. Dan korban mengancam Ibunya hendak memukul pakai batu gilingan cabai. Dan kejadian itu dilihat tersangka yang saat itu hendak masuk kedalam rumah. Hingga membuat tersangka khilaf dan mengambil kayu disamping rumah, memukulkannya ke kepala korban. Lalu memukul pakai batu gilingan cabai.(HS-02)