Satu Untuk Semua

Sering Byar-pet, PLN di Kabupaten Empat Lawang Jadi Sorotan

Silampari Online,

EMPAT LAWANG- Kondisi listrik PLN di Kabupaten Empat Lawang, khususnya di Tebing Tinggi, akhir-akhir ini kembali menjadi sorotan masyarakat di kabupaten ini. Hal tersebut dikarenakan, seringnya terjadi byar-pet akhir-akhir ini hingga membuat sebagian masyarakat merasa kesal.

“Coba bayangkan, pernah saja dalam semalam itu terjadi lebih dari 10 kali byar-pet. Seperi lampu disco saja, listrik PLN ini,” ucap Khoirul, warga Tebing Tebing Tinggi, saat dibincangi Harian Silampari, Kamis (13/9).

Bahkan sebut dia, seringnya matinya aliran listrik menjelang waktu Magrib, disesalkan warga. Padahal, saat waktu tersebut, masyarakat sangat membutuhkan penerangan, karena hendak menjalankan ibadah shalat Magrib. “Kami sebagai konsumen tidak tahu menahu masalah PLN. Karena kami sudah bayar, tentu merupakan hak jika kami menanyakan pelayanan prima,” cetusnya.

Keluhan itu juga ternyata menjadi atensi Herman Rusul, salah seorang anggota DPRD Empat Lawang dari Fraksi Demokrat. Dia mengaku sengaja membawa persoalan tersebut ke sidang paripurna DPRD Empat Lawang, melalui pandangan Fraksi.

“Kita sampaikan masalah byar-pet ini, karena memang sudah sangat dikeluhkan masyarakat banyak. Dan memang, selaku wakil rakyat, sudah menjadi kewajiban kami untuk sampaikan itu di paripurna dewan,” akunya.

Dijelaskannya pria yang menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Empat Lawang tersebut, permasalahan byar-pet listrik PLN di Tebing Tinggi, merupakan persolaan yang sudah sangat lama. Namun sayangnya, hingga saat ini belum juga teratasi dan ini tentu menjadi pertanyaan semua kalangan, apa yang sebenarnya terjadi dengan PLN di Kabupaten Empat Lawang.

“Mereka (masyarakat, red) tidak tahu dan memang tidak mau tahu masalah apa di PLN. Karena yang mereka harapkan, PLN hidup terus tanpa byar-pet. Sayangnya, harapan itu belum terwujud hingga kini,” imbuhnya.

Karena itu, dia berharap permasalahan byar-pet listrik PLN di Tebing Tinggi dapat segara diatasi, karena masalah ini sudah cukup lama, jauh sebelum kabupaten ini terbentuk lebih dari satu Dasawarsa lalu. (HS-05)

Komentar
Loading...