*Suh Butuh Uluran Tangan Dermawan

163
FOTO : RISHAHUDI/HARIAN SILAMPARI
Suh, warga Desa Noman Baru, Kecamatan Rupit Kabupaten Musi Rawas Utara, butuh bantuan karena kakinya luka sudah dua bulan tidak mendapatkan pengobatan, Minggu (24/3).
Advertisement

Jangankan Untuk Biaya Berobat, Makanpun Susah

Suh menderita luka pada kaki cukup lama tidak kunjung sembuh. Dia hanya pasrah sebab tak punya biaya untuk kebutuhan ekonomi dan berobat. Berikut liputannya.

Rishaudi-Muratara

SELAMA 2 bulan 13 hari tubuhnya hanya pasrah menahan rasa sakit yang tak terhingga karena menderita luka pada kaki. Akibat tertimpa kayu saat bekerja. Luka ini sudah mengeluarkan bauh busuk, berwarna hitam seperti arang. Sepertinya terancam dua jari pada kaki akan terlepaskan. Walau demikian, Suh, penderita harus terus bekerja mengusir rasa sakit demi memenuhi kebutuhan keluarga. Terkadang dirinya menyerah tak mampu menahan rasa pedih dan perih. Dia sangat berharap belas kasihan dari tetangga dan kerabat.

Sore itu, Minggu (23/3), Suh (57) ditemani sang istri tercinta Warga Desa Noman Baru, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), duduk di depan rumah tempat tinggalnya.

Saat ditemui Wartawan Harian Silampari, terlihat Suh menderita luka pada kaki, wajahnya pucat, lesu menahan rasa sakit yang diderita, karena tak punya biaya untuk kebutuhan dalam  berobat.

Lanjut dia, Selama 2 bulan 13 hari saya menahan rasa sakit pada luka kaki, pedih, perih, apalagi saat dibawah kerja, terasa berdenyut-denyut sampai ke otak, sehingga setiap apa yang dilakukan belum maksimal, sementara kebutuhan hidup keluarga terus menuntut dari hari ke hari, minggu ke minggu bahkan bulan ke bulan. “Kami berharap uluran dermawan agar bisa membantu,” harapnya.

Dijelaskan Hasbi Asadiki, Kehidupan keluarganya memang dalam serba kekurangan atau tak berkecukupan. “Yaa..mungkin pantas jika keluarga dikatakan keluarga miskin, seperti orang-orang katakan, namun apa hendak di kata itulah yang terjadi pada keluarga,” ungkapnya.

Biasanya jika sehat, Suh terus bekerja sebagai upahan alias bejawat, seperti kuli kayu di hutan, membersihkan kebun. “Asalkan mendapatkan upah pasti saya lakukan, asalkan itu pekerjaan yang benar..!! setelah mendapatkan musibah luka pada kaki, saya hanya pasrah, kalaupun bisa kerja itupun tak maksimal, artinya upahnya juga tidak normal seperti biasanya, untuk sementara hanya bergantungan pada penghasilan istri yang juga bekerja sebagai kuli, ” paparnya.

Lanjut Suh, ia sangat berharap jika ada uluran tangan baik dari pihak pemerintah ataupun dari para dermawan dalam membantu pengobatan ataupun kebutuhan keluarga selama proses perawatan berobat berlanjut.

“Sejak saya mendapatkan musibah luka, hanya sekali di rawat, itupun saat saya musibah luka, saya disuntik dan lukanya dijahid sebanyak 24 jahitan, setelah itu saya tak pernah lagi berobat pasalnya terkendala biaya, janganlan untuk berobat makan keluarga kamipun senin kemis atau susah,” terangnya.

Sementara Kepala Dusun V Desa Noman Baru menuturkan, ia membenarkan bahwa ada salah satu warganya yang menderita luka pada kaki selama 2 bulan lebih, keluarga tersebut perekonomiannya sangatlah memprihatinkan.

“Benar berobat tidak bayar, namun bagi keluarga yang ngurus tentu menggunakan biaya, sedangkan yang bersangkutan jangankan untuk biaya tersebut makan pun mereka susah, ” tutupnya. (*)