Sulap Kelas Jadi Pojok Baca

    181
    Advertisement

    Silampari Online,

    LUBUKLINGGAU-Budaya literasi telah banyak diterapkan di sekolah-sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, serta meningkatkan mutu pendidikan.

    SDN 63 Model Lubuklinggau, terus memacu para siswanya untuk gemar membaca. Salah satu cara yang dilakukan dengan, membuat pojok baca di setiap kelas. Dimana setiap kelas memiliki tema, yang berbeda-beda. Tidak hanya di dalam kelas, pojok baca juga ada diruangan kepala sekolah, dewan guru dan beberapa sudut di halaman atau lingkungan sekolah.

    “Pojok baca tersebut merupakan Gerakan Literasi Sekolah, yang bertujuan untuk menanamkan karakter serta budaya membaca dan menulis sehingga dapat menumbuhkan minat baca. Selain itu, pojok baca merupakan penerapan literasi dari program sekolah Model dan Kurikulum 2013 (K13),” ungkap Kepala SDN 63 Model Lubuklinggau, Pertiwi.

    Ia menjelaskan, dipojok baca juga dilengkapi dengan koleksi buku, yang tentunya ditata dengan menarik untuk menumbuhkan minat baca peserta didik. Bahkan untuk mempercantik dan memperindah pojok baca, latar belakangnya dihiasi dengan berbagai macam bentuk lukisan. Tidak hanya itu saja, karya peserta didik juga ditampilkan di tempat pojok baca.

    “Pojok baca ini untuk menciptakan suasana baca yang menyenangkan di dalam kelas apalagi berbagai macam buku baik fiksi maupun non fiksi tersedia. Dan ini merupakan salah satu inovasi, untuk membudayakan semangat membaca di sekolah,” jelasnya.

    Masih kata, Pertiwi, setiap harinya SDN 63 Model Lubuklinggau memiliki budaya membaca di mana 15 menit sebelum belajar. Anak-anak membaca buku bersama. Mereka terus berupaya, membangun budaya membaca anak didiknya karena membaca bisa membawa perubahan yakni membuka wawasan dan memacu meningkatkan kreativitas.

    “Dengan membaca buku itu membuka jendela dunia, jadi mereka akan mengerti dan mengetahui tentang banyak hal. Apalagi, buku-buku yang ada dipojok kelas selalu di tukarkan dengan buku yang ada diperpustakaan sehingga anak-anak tidak merasa bosan.” tegasnya.(HS-02)