Tetap Prima

77
FOTO : BUDI SANTOSO/HARIAN SILAMPARI
Didi Kempot
Advertisement

Silampari Online,

K KALIBENING-Usia tak menghalangi Didi Kempot tampil aktraktif di atas pentas. Pria berusia 54 tahun sukses menghibur ribuan penonton ‘Pesta Rakyat Memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Musi Rawas ke-76 di Lapangan Sepakbola Desa K Kalibening, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, dengan lagu campur sari.

Saat manggung, Didi Kempot memberi nuansa magis. Menyapa fansnya dengan bahasa Jawa. Baju yang dikenakannya pun serba hitam dipadu motif batik putih. Pemilik hits campursari Pamer Bojo dan Banyu Langit sangat aktraktif. Tapi jangan dilihat rambutnya yang panjang, dengarkan suara merdunya saja. Melengking. Sikapnya pun humble saat menyapa penggemarnya.

Didi, sapaan penyanyi lagu Jawa ini memberikan hiburan segar untuk masyarakat Musi Rawas, pada acara pesta rakyat yang dihadiri langsung Gubernur Sumsel, H Herman Deru dan istri, serta Bupati Musi Rawas, H Hendra Gunawan dan istri serta pejabat di lingkungan Pemkab Musi Rawas.

Secara eksklusif Harian Silampari mewawancari pemilik hits lagu ‘Stasiun Balapan’ ini di belakang. Berikut penuturannya. Didi memulai dengan menilai Kabupaten Musi Rawas. “Bagi saya Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten yang sudah berusia 76 tahun.

Kemajuannya sungguh luar biasa, masyarakat disini sangat familiar. Budaya yang masuk bisa diterima dengan baik, dan ini luar biasa. Artinya ada kebersamaan di sini,” ucap Didi sembari menambahkan, semoga Kabupaten Musi Rawas makin sukses ke depannya.

Ditanya apakah sudah mencicipi masakan khas Musi Rawas. Didi menyahut, ingin menyantap Pindang Ikan Musi Rawas. “Saya pengen cari pindang Patin, dulu saat saya datang ke sini pernah menyantap pindang Patin,” seloroh Didi yang memang kerap diundang pihak Pemkab Musi Rawas untuk mengisi acara. Jadi wajar jika Didi sangat familiar dengan masyarakat Musi Rawas ini.

Kehebatannya dalam bernyanyi lagu Jawa, Didi mengaku bersyukur pada Sang Pencipta. “Ya, mungkin Allah SWT mengasih kebisaan saya bikin lagu dan menyanyi lagu Jawa, dan jujur saja dengan bernyanyi seperti ini saya bisa menghidupi keluarga saya,” sebut Didi yang merupakan adik kandung pelawak kondang Alm Mamiek Podang ini.

Didi sendiri dikenal sebagai penyanyi campursari kebanggaan Kota Solo. Didi telah mengeluarkan album antara lain Stasiun Balapan (1999), Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004), dan Ono Opo (2005). Kesuksesan Didi ini tentu dari sikapnya yang selalu optimis. Ia mengaku itulah kunci keberhasilannya, “Kita harus tenang dan tetap optimis dalam hidup ini,” ungkapnya memberikan tips suksesnya. Dan, yang tak kalah pentingnya, Didi berharap dapat terus melestarikan budaya Indonesia, khususnya Campur Sari. “Mari kita cintai budaya kita, karena sudah ada sejak dulu pada jaman penjajahan sampai sekarang. Tugas kita hanya melestarikan, gitu aja,” tutupnya.(HS-09)