WNA Asal China Diamankan Polisi

145
FOTO : AAN/HARIAN SILAMPARI
Wakapolres Lubuklinggau Kompol Zulkarnain menggelar konfrensi pers terkait kasus dugaan peredaran obat herbal dari China, Selasa (15/1)
Advertisement

Silampari Online,

LUBUKLINGGAU – Polres Lubuklinggau mengamankan ribuan obat herbal yang diduga tidak terdaftar (ilegal) di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat herbal itu didapat dari seorang Warga Negara Asing (WNA) asal China yakni Peng Changfu di Bandara Silampari Lubuklinggau, Selasa (15/1) sekitar pukul 09.00 WIB.

Rencananya obat-obatan tersebut akan dibawa ke Jakarta dari Bandara Silampari Lubuklinggau dengan naik maskapai Batik Air. Namun ketika check in, penumpang tersebut saat melalui pemeriksaan security check point 1 lewat X Ray terdeteksi. Sehingga oleh petugas bandara dilakukan pemeriksaan.

“Dia ini kebetulan mau ke Jakarta, kebetulan dia membawa obat,” kata Wakapolres Lubuklinggau, Kompol Zulkarnain.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas bandara, ternyata obat-obatan yang dibawa tidak mempunyai dokumen. Kemudian petugas bandara berkoordinasi dengan Polisi bandara. Selanjutnya Polisi bandara berkoordinasi dengan Polres Lubuklinggau.

“Kita intrograsi awal, ternyata sebagian obat-obatan ini ada yang dikirim dan ada yang katanya dibawa sebagian,” ujarnya.

Lebih lanjut pihaknya mengungkapkan bahwa obat-obatan yang diamankan tersebut tidak sesuai dengan standar Nasional karena tanpa kriteria penggunaan obat, peredaran obat dan izin edar. Tentu hal itu ada kerawanan-kerawanan, terutama masalah kesehatan. Pihak Polres juga tengah mencari tahu darimana asal obat itu. 

“Kita ada undang-undang kesehatan No 36 tahun 2009. Jika kita biarkan ini beredar, nah ini cek lagi ini komposisinya, bagaimana dan sebagainya. Bisa membahayakan masyarakat,” kata dia.

Kemudian berkaitan dengan WNA yang diamankan, izinnya adalah izin berkunjung. Dan pihak Polres akan berkoordinasi dengan imgrasi terkait masalah izin WNA tersebut.

“Setahu saya tidak boleh orang izin berkunjung, tapi berdagang ataupun mengobati. Nah nanti bagaimana, apalah dia dikembalikan, itu nanti hasil koordinasi dengan pihak imigrasi,” ungkapnya.

Selain itu, obat yang diamankan dari WNA tersebut saat ini akan dilakukan pengecekan sembari menunggu saksi ahli. “Saksi ahli yang bicara masalah obat ini berbahaya atau tidak. Kalau ada pidana, ya sesuai dengan pidana. Kalau tidak ada mungkin disita, dimusnahkan karena dianggap membahayakan,” ujarnya.

Sementara itu berdasarkan keterangan Peng Changfu ketika dibincangi dengan sedikit terbata-terbata menggunakan bahasa Indonesia mengatakan, bahwa dirinya baru satu kali ke Lubuklinggau. Dan obat yang dibawanya itu dibawa dari Cina.

“Saya sudah dua minggu tinggal dikampung,” kata Peng Changfu yang tidak detail menyebut kampung yang dimaksud apakah diwilayah Lubuklinggau, Mura atau Muratara. Dirinya hanya ingat dan berujar tinggal di kampung. 

Dia juga mengaku, obat-obatan yang dibawanya itu hendak dibawa pulang lagi ke toko di Jakarta. “Mau dibawa pulang ke toko di Jakarta. Ada toko disana, punya orang tokonya,” timpal dia. 

Sedangkan Kepala BPOM Lubuklinggau, Afdil Kurnia mengatakan obat-obatan yang diamankan tersebut termasuk golongan obat-obatan tradisional. Dan lebih banyak dikenal sebagai obat-obatan herbal. “Dari beberapa kapsul yang kami buka, sepertinya memang ini obat herbal,” jelasnya.

Meski begitu pihaknya mengaku tidak tahu apakah kandungan obat herbal tersebut dicampur dengan obat kimia atau tidak. “Kita tidak tahu, perlu uji laboratorium apakah ini memang ditambahkan bahan obat kimia sintetik. Karena di Indonesia sendiri untuk obat tradisional dilarang dicampur dengan bahan kimia obat lainnya,” kata Afdil.

Kemudian dipemeriksaan awal, obat-obatan tersebut tidak memiliki identitas yang jelas. Sehingga pihaknya melihat bahwa obat-obatan itu tidak terdaftar. “Kemungkinan ini tidak terdaftar,” ucapnya.

Terpisah Kepala Bandara Silampari Lubuklinggau, Rudi Pitoyo membenarkan adanya seorang penumpang WNA yang akan berangkat ke Jakarta dari bandara Silampari diamankan dan penumpang tersebut tidak jadi diterbangkan.

“Saat pemeriksaan menggunakan Xray, ditemukan ada barang yang mencurigakan. Karena bukan wewenang kita maka, kita serahkan kepada polisi bandara,” pungkasnya.(HS-01)