60 Petani akan Mengikuti Studi Banding ke Cianjur

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang, Hernawan.

SILAMPARI ONLINE, KEPAHIANG – Sebanyak 60 petani di Kabupaten Kepahiang, dari berbagai sektor pertanian direncanakan akan mengikuti studi banding ke daerah Cianjur, Jawa Barat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang, Hernawan menjelaskan, petani yang menjadi peserta studi banding adalah perwakilan dari 3 komoditi, yakni peternakan, tanaman pangan dan perkebunan. Direncanakan akan menghabiskan waktu selama 6 hari, dengan asumsi 4 hari di perjalanan PP (pulang pergi), kemudian 2 hari di lokasi. 

Bacaan Lainnya

Menurutnya, dengan waktu 2 hari belajar di sana, sudah cukup untuk peserta mempelajari manajemen yang diterapkan kelompok tani setempat sehingga bisa lebih maju.

“Kapan waktu berangkatnya kita belum putuskan, tapi diperkirakan bulan Februari ini. Berangkatnya lewat jalur darat, mungkin akan menghabiskan waktu selama 6 hari, 2 hari berangkat, 2 hari balik, dan 2 hari belajar di sana,” kata Hernawan, Jumat lalu, (28/1).

Lanjutnya, kalau masalah ilmu pertanian mungkin petani di Kabupaten Kepahiang tidak kalah dengan ilmu petani di daerah tujuan nanti (Cianjur), tapi yang perlu di pelajari adalah bagaimana manajemen yang diterapkan sehingga kelompok taninya bisa maju dan berkembang, bahkan terkait pemasarannya nanti. 

Daerah tujuan memang sengaja dicari dearah yang komoditinya lengkap, baik bidang peternakan, perkebunan maupun tanaman pangan sehingga semua bidang yang berangkat akan terpusat di satu wilayah.

“Kalau secara pengalaman bertani kita tidak kalah, tapi ada manajemen dan pola yang mereka terapkan, ataupun bagaimana pola pemasaran mereka yang mungkin kita belum ketahui,” tambahnya.

Untuk menjalankan program studi banding tersebut Hernawan mengaku telah menganggarkan sebesar Rp 150 juta. Dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 150 juta itu diharapkan peserta studi banding bisa menyerap ilmu di sana (Cianjur), kemudian diterapkan di sini.

“Di bidang peternakan kita akan belajar tentang sapi perah dan ayam buras (bukan ras), kemudian di bidang tanaman pangan, peserta akan mengunjungi petani yang menggalakan padi darat dan padi sawah yang IP (indek persentase penanaman) sudah 3 kali,” jelas dia.

Sementara di bidang perkebunan, lanjut dia, peserta akan melihat petani kopi, tapi bukan bagaimana berkebun kopinya tapi bagaimana pemasaran ataupun pengolahannya sehingga lebih bernilai ekonomis.

Hernawan juga berencana, di APBD-P 2020 ataupun APBD 2021 nanti, pihaknya akan menganggarkan untuk kelompok tani untuk sapi perah, ayam buras dan pengolahan kopi.

“Mungkin dari hasil belajar di sana nanti, kita akan menerapkan di sini. Kita akan anggarkan untuk kelompok tani di APBDP 2020 atau di APBD 2021 nanti untuk usaha sapi perah, ayam buras dan pengolahan biji kopi menjadi serbuk,” tutupnya. (KHS-06)