Adat Cuci Kampung Masih Dilestarikan

ilustrasi. foto net

SILAMPARI ONLINE

MUSI RAWAS– Adat istiadat dan kebudayaan di sampai saat ini masih dilestarikan di Bumi Lan Serasan Sekentenan. Salah satunya yakni adat cuci kampung. “Hingga saat ini masih ada kebudayaan yang masih dilestarikan atau dilakukan di beberapa Desa,”jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, (Disbudpar) Kabupaten Mura, Syamsul Djoko Karyono melalui Kabid Kebudayaan, Hamam Santoso kepada Harian Silampari, Rabu (23/10/2019).

Muat Lebih

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa, adapun kebudayaan yang masih dilakukan oleh warga di Mura di antaranya, Nepung Dusun, Cuci Kampung dan lain-lain. “Nepung Dusun yakni dimana ada kejadian apabila ada kejadian seperti kecelakaan antara individu sesama warga,” terangnya.

Kemudian, satu pihak keluarga merasa bersalah akibat kecelakaan dan melakukan pengobatan kepada warga satunya hingga benar-benar korban tersebut kembali pulih dan sehat. “Kemudian, adapula yang menjadi saudara hingga keluarga angkat akibat adanya permasalahan tersebut,”bebernya.

Selain itu, ada juga yang namanya kebudayaan Cuci Kampung yang artinya kembali bersih atau suci. Salah satu contoh, apabila ada dua orang yang bukan muhrimnya kedapatan warga didalam suatu rumah melakukan indikasi hubungan layaknya suami istri. Maka kedua orang tersebut harus melakukan cuci kampung, yang artinya harus mensucikan atau membersihkan kampung dengan cara sedekah.

“Bahkan yang lebih parah, kedua orang tersebut diarak keliling kampung agar kedepannya tidak kembali hal yang serupa dan ada juga dinikahkan, hanya saja kembali kesepakatan pemangku adat di daerah itu sendiri,”pungkasnya.  (*)

 

Laporan : Krismanto