BAHAYA OBESITAS PADA GANGGUAN PSIKOSOSIAL

SILAMPARI ONLINE

Kegemukan biasanya terjadi dalam berbagai tingkatan umur, kegemukan dapat terjadi pada masa bayi, anak-anak, maupun pada saat dewasa. Kegemukan juga banyak terjadi pada wanita yang masih muda maupun ibu-ibu, pada sebagian wanita kebanyakan merasa kesulitan untuk menurunkan berat badannya walaupun keinginan untuk menurunkan berat badan sangat tinggi. Namun bagi mereka yang kegemukan dengan mengikuti kegiatan berolahraga akan terasa sebagai siksaan dikarenakan mengontrol pola makan.

Muat Lebih

Di Indonesia, berdasarkan data Riskesda oleh kementerian kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, proporsi obesitas pada dewasa >18 tahun mencapai 21,8 %. Provinsi yang memiliki proporsi obesitas pada dewasa > 18 tahun berada di provinsi Sulawesi Utara yaitu sebesar 30.2%.
Remaja termasuk golongan remaja yang rentan terhadap gizi. Makan pagi (sarapan) adalah hal yang banyak orang lupakan, khusus nya siswi-siswi. Sehingga seseorang baru mulai makan pada siang hari.

Hal tersebut banyak terjadi dikarenakan berangkat sekolah yang cukup pagi, terlambat bangun tidur (kesiangan), dan malas untuk sarapan. Mereka memilih mkanan cepat saji karena penyajian cepat sehingga hemat waktu dan dapat di hidangkan kapan dan dimana saja, tempat saji dan penyajian yang higienis, dianggap makanan bergengsi, makanan modern, juga makanan gaul bagi anak muda. Makanan cepat saji yang dimaksud adalah jenis makanan yang dikemas, mudah disajikan, praktis atau diolah dengan cara sederhana.

Urbanisasi, globalisasi dan industrialisasi menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia cenderung menyukai makanan cepat saji. Makanan cepat saji merupakan makanan yang tinggi lemak dan garam dan rendah akan serat. Konsumsi makanan cepat saji berlebih menyebabkan kelebihan asupan energy dan meningkatkan resiko terjadinya obesitas
Seseorang yang kurang melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak gerak tubuh merupakan hal yang harus diwaspadai terhadap terjadinya obesitas. Disamping itu perubahan berat badan dapat diperoleh dari pendekatan aktifitas fisik dan dengan mengatur pola makan.

Hal seperti pola makan tersebut sangat berpengaruh terhadap berat badan seseorang disamping kurang aktifitas fisik.
Kegemukan juga dianggap suatu hal yang hina atau bisa disebut hal yang memalukan, dimana remaja kebanyakan hampir ingin mati-matian melakukan diet ekstrim untuk dijadikan alasan menurunkan berat badan dengan cepat tanpa memikirkan dampak bagi kesehatan. Memiliki badan yang kurus bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi kalangan perempuan dan juga sebagai suatu prestasi sendiri.

Membanding-bandingkan body bentuk tubuh dengan bentuk tubuh wanita yang lain yang menurut dia lebih bagus dan berbentuk atau bisa disebut body goals.

Permasalahan yang dapat terjadi pada remaja obesitas selain permasalahan kesehatan adalah psikososial . gangguan atau permasalahan psikososial dapat disebabkan karena pengaruh dari stigma. Stigma obesitas dapat menyebabkan remaja obesitas memiliki ketidakpuasan terhadap bentuk tubuhnya dan memiliki harga diri yang lebih rendah daripada remaja dengan berat badan normal.

Remaja yang memiliki rasa ketidakpuasan akan bentuk tubuhnya dan mempunyai harga diri yang rendah dapat memicu adanya kejadian pembullyan. Pembullyan yang dilakukan dapat dalam bentuk secara fisik seperti didorong, dipukul atau ditendang, dapat juga berupa ejekan dan dikucilkan. Bentuk pembullyan yang dilakukan pada remaja tersebut dapat mengakibatkan suatu dampak yaitu depresi.

Telah diketahui sebelumnya bahwa anak obesitas mudah mengalami gangguan psikososial karena memiliki percaya diri yang rendah, presepsi diri yang negatif, rasa rendah diri serta menjadi bahan ejekkan teman-temannya. Gangguan psikososial dapat terjadi oleh dua faktor yaitu faktor internal maupun eksternal. Faktor internal merupakan faktor dari anak itru sendiri, yaitu keinginan untuk menguruskan badan dan merasa berbeda dengan anak lain sehingga anak obesitas mempunyai rasa percaya diri yang rendah dan mengalami depresi. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan yang memberi stigma pada anak obesitas yang dianggap sebagai anak yang malas, bodoh, dan lamban. Lingkungan merupakan keseluruhan fenomena fisik atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan remaja, meliputi lingkungan keluarga, sekola, teman sebaya dan masyarkat.
Peran dari orang tua juga sangat penting dalam mendukung semua hal-hal positif yang dilakukan oleh anak remaja tersebut. Memberi pengertian yang baik bagaimana melakukan penurunan berat badan yang baik sesuai dengan yang anjurkan oleh ahli gizi atau bisa dilakukan dengan menggunakan cara diet yang sehat. Serta orang tua juga harus memperhatikan pola makan anak seperti memberikan porsi makan yang tepat dan rendah kalori.
Faktor-faktor penyebab yang menpengaruhi terjadinya obesitas :
a. Genetik
Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula. Hal ini dimungkinkan karena pada saat ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar. Seorang anak punya 40% kemungkinan mengalami kegemukan, bila salah satu orangtuanya obesitas. Bila kedua orangtuanya kelebihan berat badan, maka kemungkinan seorang anak mengalami obesitas pun naik hingga 80%.

b. Kerusakan pada salah satu bagian otak
Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada suatu bagian otak yang disebut hipotalamusDua bagian hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang menggerakan nafsu makan (awal atau pusat makan); hipotalamus ventromedial (HVM) yang bertugas merintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat kenyang). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur maka individu menolak untuk makan atau minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan.

c. Pola Makan Berlebihan
Orang yang kegemukan lebih responsif dibanding dengan orang berberat badan normal terhadap isyarat lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau saatnya waktu makan. Orang yang gemuk cenderung makan bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia lapar. Pola makan berlebih inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk keluar dari kegemukan jika sang individu tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang kuat untuk mengurangi berat badan.

d. Kurang Gerak/Olahraga

Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunan metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut.
e. Pengaruh emosional
sebagian orang yang kelebihan berat badan tidaklah lebih terganggu secara psikologis dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan normal. Meski banyak pendapat yang mengatakan bahwa orang gemuk biasanya tidak bahagia, namun sebenarnya ketidakbahagiaan batinnya lebih diakibatkan sebagai hasil dari kegemukannya. Hal tersebut karena dalam suatu masyarakat seringkali tubuh kurus disamakan dengan kecantikan, sehingga orang gemuk cenderung malu dengan penampilannya dan kesulitannya mengendalikan diri terutama dalam hal yang berhubungan dengan perilaku makan.

f. Lingkungan
Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk. Jika seseroang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal maka orang yang obesitas tidak akan mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan kegemukan.
Dampak Dari Obesitas :
Obesitas dapat menyebabkan berbagai masalah fisik maupun psikis, masalah fisik seperti ortopedik sering disebabkan karena obesitas, termasuk nyeri punggung bagian bawah, dan memperburuk osteoarthritis (terutama di daerah pinggul, lutut, dan pergelangan kaki). Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relative lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun antara lain sebagai berikut:Diabetes tipe 2 (timbul pada masa remaja), Tekanan darah tinggi, Stroke, Serangan jantung, Gagal jantung, Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar), Batu kandung empedu dan batu kandung kemih, Gour dan arthritis, Osteoastritis, Tidur apnea (kegagalan bernafas secara normal ketika tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah), Sindroma pickwiskian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi, dan ngantuk.

Penulis  : NELCA EVRI MOFYANI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SRIWIJAYA