Berkat Terjun Payung Ekstrem, Naila Novaranti Makin Mendunia

Naila Novaranti, Diaspora Indonesia yang berprestasi di bidang terjun payung ekstrem (jawapos.com)

Silampari Online,

JawaPos.com – Naila Novaranti, pelatih dan penerjun payung perempuan dari Indonesia, dijadwalkan akan mendapatkan penghargaan dalam Kongres Diaspora Internasional 2019. Naila dikenal sebagai atlet penerjun payung ekstrem yang termotivasi terus memecahkan rekor dalam aksinya di lokasi-lokasi penerjunan yang paling ekstrem.

Muat Lebih

Naila sendiri tinggal di luar negeri. Dia bekerja dan memiliki prestasi sesuai profesinya. Rencananya, penghargaan untuk Naila akan diberikan pada 10 Agustus 2019 mendatang.

Sebagai penerjun payung ekstrem, Naila banyak menjelajah ke luar negeri terutama negara-negara Eropa sampai Timur Tengah. Prestasi sebelumnya dia pernah melakukan aksi nekat terjun payung di atas ketinggian Mount Everest di Nepal dalam kondisi cuaca yang berbahaya.

Saat melawat ke Taiwan beberapa waktu lalu pada akhir Juli 2019, Naila sempat mengunjungi beberapa tempat wisata yang eksotis. Selain itu, lokasinya cukup ekstrem sehingga menjadi salah satu pilihan lokasi terjun payung.

Dalam melakukan kunjungannya selama empat hari di Taiwan, beberapa tempat wisata yang dikunjungi Naila seperti Taipei Zoo, Yehliu Geopark, Menara 101 Taipei Taiwan, sampai lampion Pingxi Old Street di Distrik Pingxi. Naila dan para Diaspora sempat menjajal wind tunnel skydive indoor di Taichung Taiwan. Tempat tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar terbang secara indoor bernama iFly.

Naila menyebut Taiwan memiliki lokasi-lokasi yang indah, menakjubkan, dan bisa sebagai alternatif untuk pendaratan terjun payung yang dianggap ekstrem. “Kebetulan ke Taiwan diundang panitia Kongres Diaspora Indonesia. Saya dianggap sebagai orang yang tinggal di luar negeri dan memiliki prestasi di bidang saya sebagai perempuan penerjung payung ekstrem,” ujar Naila Novaranti dalam keterangan tertulis, Rabu (7/8).

Selain karena senang mencari spot-spot pendaratan yang ekstrem, Naila juga suka tantangan. Gayung bersambut, Naila menemukan banyak tempat menarik di Taiwan.

“Di Taiwan itu ada beberapa lokasi yang layak dijadikan tempat terjun payung yang ekstrem apalagi dengan view yang indah banget. Harus dicoba sih tapi belum tahu kapan karena butuh persiapan dan izin juga. Tidak bisa asal terjun, ada kode etiknya. Pokoknya cari lokasi baru sekaligus menikmati keindahan Taiwan,” sebut Naila.

Ada tiga lokasi menantang yang dikunjungi Naila seperti Yehliu Geopark yakni Taman Batu Karang plus pemandangan laut biru yang memesona. Tempat wisata ini menyuguhkan pemandangan batu karang beraneka bentuk yang sangat menakjubkan yang berada di kawasan semenanjung dengan panjang 1.700 meter. Kemudian ada Menara 101 Taipei Taiwan. Menara ini menjadi gedung tertinggi kedua di dunia yang memiliki 101 lantai dengan luas total 450.000 meter persegi.

Kemudian terakhir adalah Pingxi Old Street. Pingxi Old Street adalah kota yang kaya akan sejarah budaya dengan pemandangan alam yang indah. Dulunya bisa dinikmati sepanjang perjalanan di kereta. Ada tradisi kuno yakni lokasi doa yang menjadi objek wisata dengan menerbangkan puluhan lampion.

“Ketiga tempat di Taiwan itu berbeda-beda tantangannya. Saya dapat pengalaman baru, tempat baru, sesuatu yang baru, teman baru. Itu saja sih,” ungkapnya.

Menurut Naila, setiap negara memiliki lokasi atau spot pendaratan banyak dan penuh tantangan. Namun, paling utama adalah izin terjun. “Untuk cari spot pendaratan di setiap negara sebetulnya banyak, ada saja. Cuma masalah izin harus dipikirkan karena pasti setiap negara berbeda sistemnya,” jelas Naila.

Sebagai penerjun payung perempuan, Naila sudah kenyang pengalaman. Dia juga instruktur profesional terjun payung dunia. Dia melatih para penerjun payung baik dari kalangan militer maupun sipil di 46 negara di dunia. Selain itu, Naila juga akan melakukan rekor penerjunan di benua paling dingin, Antartika, pada akhir 2019 ini. (JPC)

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani