Bumi Hanguskan Prostitusi di Kota Madani dan Bumi Silampari

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : ISTIMEWA</div></small> Ustad Atiq Fahmi

Silampari Online,

Oleh : Ustad Atiq Fahmi Pimpinan Ponpes Ar-Risalah

Muat Lebih

PROSTITUSI dianggap sebagai hal yang tabu oleh masyarakat Indonesia bukan tanpa alasan. Selain budaya seks bebas tidak sesuai dengan mayoritas budaya bangsa-bangsa timur, prostitusi terbukti memberikan banyak dampak negatif.

Pada dasarnya prostitusi memang memberikan beberapa dampak positif untuk pelakunya, tetapi dampak negatif yang dihasilkan dari praktik  prostitusi lebih beragam dan lebih kompleks dari dampak positifnya.

Pimpinan Pondok pesantren Ar-Risalah Lubuklinggau Ustad Atiq Fahmi menyoroti persoalan prostitusi ini,khususnya di Kota Lubuklinggau. Menurutnya prostitusi di Lubuklinggau perlu ditinjau dan di ilegalkan, karena prostitusi merupakan kejahatan terhadap kesusilaan atau moral dan melawan hukum. Peninjauan prostitusi ini dirasa sangat perlu, dimulai dari tempat paling lama (Patok Besi) hingga ke tempat-tempat yang baru terselebung di dalam hotel-hotel, penginapan, panti pijat maupun tempat karaoke.

Kita berharap jangan sampai Kota Lubuklinggau yang dikenal dengan nama “Madani” berubah menjadi kota tujuan prostitusi, dan terkenal sebagai kota maksiat. Dan Akhirnya, nama Madani itu akan ditertawakan. Kita khawatirkan jargon kota madani akan menjadi kota transit maksiat,prostitusi

Kemudian, prostitusi jangan dianggap sebagai pekerjaan yang legal,dikarena dikhawatirkan para remaja, generasi muda, akan berputus asa, disaat mencari persoalan ekonomi yang halal, sehingga prostitusi akan menjadi salah satu pekerjaan yang menjanjikan dengan penuh ke hura huraan. Maka dikhawatirkan mindset (cara berpikir) generasi muda akan menjadi rusak.

Jikalau kegiatan prostitusi tidak lagi ditinjau oleh pemerintah dan penegak hukum. Otomatis hal itu melanggar beberapa norma, pertama melanggar adat istiadat. Dimana negeri yang tidak mengenal istilah kumpul kebo (hubungan antara dua orang yang tidak berada dalam ikatan perkawinan yang sah, namun hidup bersama). Negeri yang sangat menjunjung tinggi akan pernikahan lambat laun akan punah. Ini sangat bahaya, dan tentu akan mengganggu kesejahteraan dan kebahagian keluarga.

Belum lagi, jika ditinjau dari dasar negara Pancasila, pertama melanggar sila pertama “Ketuhanan yang maha esa” dan sila kedua (Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Oleh karenanya penegak hukum untuk betul-betul meninjau dan melakukan sweeping, memastikan Lubuklinggau bersih dari prostitusi.

Apapun perbuatan maksiat tidak ada tempat dalam muka bumi ini, apapun itu perbuatannya. Semua orang dilahirkan untuk berbuat baik. Begitupun jika ada masyarakat berpandangan bahwa, maksiat, perzinahan perjudian, sudah ada sejak zaman nabi. Memang maksiat ada dan pasti ada, jika selagi manusia,orang orang berpikir hal semacam itu masih ada.

Namun coba kalau semua orang, berpikir bahwa perzinahan itu tidak ada, maka, hal itu tidak akan ada. Contoh lain, pembunuhan memang ada, tapi apakah harus diadakan. Saya juga menyinggung masalah waria, dimana dalam ilmu biologi tidak ada gen bencong atau banci, yang ada gen laki-laki dan gen perempuan. Jikalau ada laki laki memiliki kecenderungan untuk menjadi perempuan , itu merupakan penyakit dan mesti diobati.

Saya berpandangan seperti ini, dikarenakan selama ini, sudah banyak menerima laporan tentang prostitusi, dan laporan ini bukan dari satu dua orang, namun yang melapor ini terkadang kadang, melapor ke polisi langsung , mereka takut bermasalah.

Mereka cerita dengan kita yang sering berdakwah ini, dan kami mau tidak mau akan menyampaikan kepada pemerintah sebagai pihak yang menegakkan hukum,. Kita tidak ada niat lain, yakni ingin menegakkan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”

Kemudian, sudah banyak sekali bukti prostitusi, baik yang diperjualbelikan ,maupun yang tidak , seperti (mohon maaf) anak SMA banyak yang hamil diluar nikah, dan apakah itu tidak cukup menjadi alasan untuk kita berbicara.

Bahkan prostitusi saat ini bukan lagi di ruangan tertutup, bisa dilihat di setiap persedakahan,pesta malam, diisi dengan beredarnya miras, wanita penghibur. Hal ini perlu diperhatikan. Dan apakah kita mahluk beragama akan diam saja, berpasrah menunggu adzab dari Allah SWT.

Adzab itu tidak selamanya berupa gempa bumi, puting beliung,tetapi ketika manusia sudah tidak lagi memperhatikan baik dan buruk yang dipikirkan hanya senang senang ,bencana itu sendiri sudah datang.
Kita tidak ingin dikatakan ulama yang sudah bungkam demi amar maaruf nahi mungkar, saya berbicara seperti ini,karena kita meyakini seluruh dai,orang baik, dan masyarakat kota lubuklinggau tidak akan meridhoi lubuklinggau ini menjadi kota prostitusi.

Setelah tulisan ini, namun pemerintah dan aparat tidak ambil pusing maka itu akan menjadi tanggung jawab mereka kepada Allah SWT. Kita berikan imbaun kepada pemerintah dan penegak hukum untuk memperhatikan persoalan prostitusi di Lubuklinggau Madani. Niat kita bersama , hanya satu menyelamatkan Lubuklinggau dari segala hal yang akan memburukan nama kota ini.

Pentingnya prostitusi ini dibahas , karena kita memiliki pesantren dan dunia pendidikan sekolah. Saya mengibaratkan pesantren dan sekolah merupakan susu, dan prostitusi merupakan racun. Oleh karenanya jika ada satutitik saja racun yang jatuh kedalam susu, maka susu ini tidak dapat diminum dan menjadi racun.

Oleh karena itu, perlunya pencegahan terhadap generasi muda dari semua perbuatan maskiat,, agar kota lubuklinggau dan bangsa ini terhindar dari kebobrokan aklibat dari kelalaian kita sebagai masyarakat, pemerintah maupun aparat.(*)