oleh

Dewan Nilai Respon Pemerintah Lamban

-Tak Berkategori-277 Dibaca

□ Terkait Penderita Buerger Disease di Kecamatan Pendopo

Silampari Online,

EMPAT LAWANG – Anggota komisi III DPRD Empat Lawang, Joni Riko menyesalkan lambannya respon Pemerintah Kabupaten Empat Lawang, menangani penderita Buerger Disease, yang terlantar di Kecamatan Pendopo.

“Sangat tidak mungkin pemerintah tidak tahu ada warganya yang terkena penyakit Buerger dan kondisinya terlantar. Harusnya, instansi terkait seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial, tidak perlu menunggu laporan resmi dari bawah, tahu ada warganya yang sakit dan tidak ada biaya untuk berobat, jemput bola ke bawah,” ujar politisi Partai Nasdem tersebut, saat dibincangi Harian Silampari di Tebing Tinggi, Selasa (3/4).

Apalagi kata Riko, penderita Buerger tersebut merupakan warga yang terlantar. Terlepas apakah dia memiliki identitas atau tidak, mestinya harus dibantu bagaimana caranya agar dapat diurus, sebab menurut dia itu tugas negara sesuai dengan Undang-undang Dasar (UUD) tahun 1945. “Dalam hal ini, pemerintah harus hadir, jangan kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu,” cetusnya.

Sementara itu, Manager non-Governmental Organization (NGO) Revolutioner wilayah Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan (Sumsel), Zarkasih mengatakan, jika pemerintah kabupaten (Pemkab) Empat Lawang, menjalankan betul-betul semboyan kabupaten ini, Saling Keruani Sangi Kerawati, tidak akan ada istilah bagi pejabat di kabupaten ini yang mengaku tidak tahu ada warganya yang dalam kesusahan.

“Pedomi saja semboyan daerah ini, pakai hati nurani. Apakah tega kita lihat ada orang yang terlantar yang sangat butuh pertolongan didiamkan begitu saja,” cetusnya.

Karena itu, Zarkasih berharap agar pemkab Empat Lawang, segera melakukan tindakan nyata untuk menolong penderita Buerger tersebut, karena memang pantas ditolong dan itu tugas negara memelihara anak yatim dan orang-orang terlantar.

“Kalau ngakunya tidak tahu, itu sangat tidak masuk akal, sebab adanya penderita Buerger yang terlantar tersebut, informasinya sudah menyebar kemana-kemana. Bahkan sempat viral di media sosial,” tukasnya.

Sementara itu, Waton (47) warga yang mengurus Zulakarnian, penderita Buerger tersebut mengaku, dia sudah berkomunikasi dengan pihak Tagana di Kecamatan Pendopo. Dari informasi yang didapat sebut dia, pihak Dinsos Kabupaten Empat Lawang, berencana akan melihat kondisi Zulkarnain, penderita Buerger tersebut di rumah tempat Zulkarnain dititipkan.

“Namun, sampai jam 15.30 hari ini, petugas dari Dinsos yang katanya akan melihat kondisi Zulkarnai, tidak juga datang. Padahal saya sudah dari pagi tadi menunggu,” cetusnya.

Dijelaskannya, surat keterangan dari kepolisian yang menerangkan bahwa Zulkarnain tersebut sebagai orang terlantar, itu sudah lama ada sejak dirinya membawa Zulkarnain berobat ke RSUD Empat Lawang, namun dia tidak habis mengerti mengapa Zulakarnain belum juga diurus pemerintah.

“Tolonglah, Zulkarnain ini sangat butuh pengobatan, kasihan dia. Saya sangat berharap kalau dia ini segera dirawat di tempat yang layak,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, Zulkarnain (34), warga Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, diduga mengidap penyakit Buerger Disease cukup parah dan saat ini belum juga tertangani tindakan medis. Padahal, dengan kondisi penyakit yang dialaminya yang cukup parah dan sudah membuat sebagian kakinya membusuk, dia harusnya dirawat intesif di rumah sakit.

Saat ini, Zulkarnain harus menumpang di rumah bibinya di Desa Muaralintang Lama, Kecamatan Pendopo, karena diduga ditolak pihak Rumah Sakit, pasca dievakuasi warga di salah satu pondok tengah sawah di wilayah Desa Tanjung Eran, Kecamatan Pendopo sekitar satu minggu lalu.

“Aku di pondok tengah sawah itu, karena sudah tidak tahu lagi mau ke mana. Selama di pondok tengah sawah itu, cuma mengadalkan makan dari pemberian orang yang iba dengan aku,” cerita Zulkarnain, kepada Harian Silampari saat ditemui di rumah bibinya, Minggu (1/4). (HS-04)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Harian Silampari merupakan nama daerah di Bumi Silampari yang memiliki tiga wilayah satu kota dan dua kabupaten di provinsi Sumsel