Eka : Sekilas Hasil Survey Membingungkan

Silampari Online

MUSI RAWAS – Pesta demokrasi Pilkada Musi Rawas 2020 nampaknya semakin menarik untuk diikuti. Apalagi sudah ada dua lembaga survey yang mempublikasikan hasil survey mereka.

Muat Lebih

Menariknya, dua lembaga survey ini memiliki perbedaan data terhadap para bakal calon bupati khususnya tingkat kepuasan terhadap kinerja petahana.

Survey Raflesia Parameter Research membeberkan hasil survey terhadap kinerja petahana hanya 34 persen sementara survey LKPI responden yang Puas dan Sangat Puas diatas 70 persen.

Perihal perbedaan hasil survei ini, pengamat politik Eka Rahman ketika dimintai tanggapan mengatakan jika hasil survey dibaca secara menyeluruh, saya pikir tidak ada perbedaan dari kedua survei itu, keduanya tetap menempatkan H Hendra Gunawan (H2G) sebagai petahana di puncak elektabilitas.

Dan itu hal yang lumrah sebagai petahana punya digit elektabilitas diatas 50 persen. Karena bagaimanapun sudah lebih dari 4 tahun menjabat dan berinteraksi dengan masyarakat maupun media, apalagi H2G sebelum jadi Bupati adalah Wakil Bupati pada periode kedua Ridwan Mukti. Sehingga sebenarnya, sudah lebih 9 tahun familiar di ruang publik.

Terkait kesimpulan kedua survey, jikapun ada perbedaan, mungkin hanya beberapa digit saja. Agak mencolok mungkin pada hasil survei terkait tingkat kepuasan terhadap kinerja petahana, dimana dari lembaga survey Raflesia Parameter Research yang puas 34 persen sedangkan dari survey LKPI responden yang Puas dan Sangat Puas diatas 70 persen.

“Secara sekilas membuat publik bingung, mana sebenarnya yang akurat dari kedua survey itu,”ungkapnya.

Pertama, pada tataran praktis sebenarnya terkait pada kredibilitas orang di balik ‘dapur’ lembaga survey tersebut. Bagaimana kapabilitasnya, kapasitasnya maupun integritasnya. Indicatornya bisa dilihat dari track record pengalaman, seberapa jauh akurasi hasil surveynya.

Kedua, secara teoritis terkait perbedaan itu dimungkinkan jika ada perbedaan metodologi,sampel,besaran responden maupun waktu pelaksanaan survey. Nah, mungkin dalam survey ada sisi-2 yang di push terkait banyak kepentingan.

Namun biasanya lembaga survey, ada kode etik yang harus dipatuhi. Ada laporan hasil lengkap yang menyeluruh terhadap prinsipalnya, tinggal di lihat dan pelajari saja laporan hasil survey secara menyeluruh.

Ketiga, sebenarnya publik tak perlu bingung dengan release hasil survey saat ini, karena masih terlalu premature untuk dijadikan patokan dari kelebihan dan kekurangan salah satu figur. Karena tentu saja akurasi potensi figur dalam pilkada dipengaruhi juga oleh siapa pasangan, siapa pasangan kompetitor, apa saja parpol pengusung.

“Mungkin akan lebih valid dalam 3-4 bulan kedepan, hasil survey saat ini lebih diarahkan sebagai instrumen bagi figur untuk memutuskan ikut kontestasi atau tidak. Paling banter sebagai salah satu bahan pertimbangan bagi parpol untuk mengusung bakal calon mana dalam pilkada, dan hasil survey biasanya menjadi salah satu alat ukur,”jelas Eka.

Sementara itu, Tri Darma Putra (27) sebagai Warga Musi Rawas yang tinggal di Selangit mengaku hasil survey yang pernah dirnya baca di koran membingungkan dirinya, satu sisi incumbent layak menang, satu lagi mengaku calon potensial.

“Seharusnya, kalau memang sudah sama-sama kuat, gandengan saja, tambah kuatkan,”kata Alumni STKIP ini tertawa.

Tapi, lanjut Putra, di politik atau pilkada, kalau tidak ada dinamika kebingungan, pilkadanya kurang asik. “Ya tinggal dimasyarakat lagi, siapa yang mereka akan pilih nanti, pastinya siapapun yang maju, merupakan putra terbaik Musi Rawas,”pungkasnya.(HS-02)