Guru dan Siswa SMPN 2 Absensi Gunakan Sidik Jari

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : ELPAN/HARIAN SILAMPARI</div></small> <strong>ABSEN : </strong>Pelajar kelas IX SMPN 2 Model Lubuklinggau ketika antri melaksanakan absensi sidik jari atau fingerprint, kamis (17/1).

Silampari Online,

LUBUKLINGGAU – SMP Negeri 2 Model Lubuklinggau menjadi salah satu sekolah di Kota Lubuklinggau yang menerapkan fingerprint atau absensi menggunakan sidik jari bagi guru/staf dan siswa.

Muat Lebih

Terobosan ini, dimulai sejak awal tahun 2019, absensi sidik jari guru/staf dimulai pada 2 Januari , sedangkan fingerprint untuk siswa khususnya siswa kelas IX berlaku sejak 7 Januari 2019 lalu.
Selain itu, terobosan ini juga tidak terlepas dari status akreditasi SMPN 2 Mode Lubuklinggau yang saat ini sudah berakreditasi “A”.

“Ya benar, kita sudah menerapkan absensi fingerprint,”kata kepala SMPN 2 Model Lubuklinggau Parman ketika diwawancarai Harian Silampari.

Apa yang dilaksanakan SMPN 2 ini, menunjukan mereka sebagai sekolah yang selalu mendukung program pemerintah baik daerah maupun pusat. Dimana fingerprint ini sendiri memang sudah dicetuskan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan RI untuk diberlakukan di sekolah-sekolah.

“Oh tentu, kita merealisasikan apa yang direncanakan Kemenpan-RB dan Kemendikbud dalam hal meningkatkan kedisiplinan,”ujar Parman.

Kepala sekolah yang pandai bernyanyi ini, mengapresiasi program fingerprint diterapkan disekolah, karena akan membuat sistem lebih tertata dan berjalan baik. Para guru/Staf akan memiliki beban moral jika mereka tidak melakukan absensi. Dimana mereka mesti menunjukan sikap profesionalitas sebagai pengajar dan karyawan dengan sikap disiplin waktu.

Sementara, untuk siswa, meskipun baru diterapkan untuk kelas IX, namun hal ini akan bertahap diikuti seluruh siswa nantinya. Dikatakan Parman, dengan adanya fingerprint ini akan melatih kedisiplinan pelajar.

“Absensinya, saat waktu masuk dan pulang sekolah,bahkan kita rencananya fingerprint kedepannya akan kita onlienkan ke Dapodik,”ungkap Parman.

Dikatakan Parman, tehnik fingerprint sendiri, sudah disiapkan sekolah ada 5 alat dengan rincinan penggunaan satu digunakan guru. Satu lagi khusus kepala sekolah wakil serta kepala labor perpustakaan dan staf. Sedangkan untuk siswa kelas IX disedikan tiga alat mesin absensi. Dengan adanya program ini, maka memberikan pemahaman ilmu teknologi kepada siswa.

“Kalau dari saat ini siswa sudah diajarkan tertib dan paham teknologi, kita meyakini kedepannya, ketika mereka menemukan hal serupa seperti ini, mereka tidak akan canggung lagi,”terang Parman.

Bahkan, lanjutnya hasil dari fingerprint siswa akan diprintkan untuk dibari perbulan kepada wali kelas, untuk digunakan bahan penilaian sikap tentunya.(HS-02)