Hama Wereng dan Tikus Ancam Gagal Panen

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : KRISMANTO/HARIAN SILAMPARI</div></small> <strong>PUPUK : </strong> Martono petani warga Desa Mataram Kecamatan Tugumulyo sedang menyemai pupuk tanaman padinya dan hama wereng coklat serta tikus mengancam gagal panen, Kamis (17/1).

Silampari Online,

MUSI RAWAS– Ratusan hektar cetak sawah berada di merasi Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas (Mura) memulai musim tanam. Hanya saja, ditengah bergulirnya musim penghujan sebagian besar petani kembali dihantui trauma gangguan hama wereng dan tikus kerap mengacam terjadinya gagal panen.

Muat Lebih

Martono (45) petani warga Desa Mataram Kecamatan Tugumulyo mengaku, sudah hampir lima musim dirinya terjun menggarap cetak sawah menanam padi. Hampir setiap tahunnya terutama memulai musim tanam dengan kondisi musim penghujan kerap mengalami gagal panen adapun kendala yang terjadi sebagian besar dipicuh gangguan hama baik itu gangguan hama wereng maupun gangguan hama tikus.

“Memang untuk awal tahun ini, hampir sebagian besar ada sampai ratusan hektar lahan persawahan wilayah merasi tengah memasuki musim tanam. Namun, yang terus menjadi kendala kita petani trauma hadirinya gangguan hama wereng, ataupun paling kita takuti itu hama tikus yang memang menyerang ketika hendak panen,”jelas Martono kepada Harian Silampari, Kamis (17/1) ditengah aktivitasnya menyemai pupuk tanaman padi diareal cetak sawahnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa, musim tanam tahun ini petani sedikit bergairah. Mengingat harga beras, sudah sejak setahun belakangan mulai naik kisaran harga Rp9 ribu sampai dengan Rp9.300 untuk perkilogram dijual pasaran.

“Hampir sama setiap memulai musim tanam yakni padi jenis Infari 33. Dimana, jika melihat situasi cuaca memulai musim panen itu dan sekitar dua pekan kita menggarap cetak sawah. Barulah,  Kemudian, dalam setahun itu tiga kali tanam dengan target 4 sampai 5 bulan sudah harus panen,”terangnya.

Menurut pria yang juga sekaligus petugas PPL Kecamatan Tugumulyo bahwa dirinya barulah ditahun ini mencoba menanam sendiri dengan sistem menyewa cetak sawah milik orang yang berada areal Desa Mataram. Karena, biasanya dirinya bekerjasama membeli bibit dan semuanya oleh petani mengelolah.

“Kebetulan saya ini, juga penyulu dan memang selama bertahun-tahun ikut bersama-sama petani mengolah cetak sawah dan barulah dengan menyewa seperempat hektar cetak sawah saya ikut bercocok tanam langsung,”bebernya.

Terlepas dari itu, untuk saat ini petani di wilayah Mura jika memang dengan sungguh-sungguh mendapatkan keuntungan. Karena, dalam sekali panen bisa mendapatkan hasil bersihnya Rp3 juta. Tapi, jika memang tidak ditekuni itulah terjadi petani mengalami kesusahan dan mendapatkan hasil sedikit.

Hal senada dikatakan, Sumarno (43) petani asal Kelurahan B Srikaton Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Mura, menjelaskan dimana dari setiap tahunnya khawatir berdampak terhadap gagal panen.

“Untuk menghadapi musim tanam awal tahun ini. Kita petani memang semangat dengan melihat harga beras masih tinggi. Namun, hampir sama seperti tahun sebelumnya kita petani harus kerja ekstra menjaga cetak sawah dari serangan hama baik itu wereng belalang, ataupun hama tikus yang kesemua tergantung keberadaan populasi kendati sudah ditanggulangi masih terus terjadi,”pungkasnya. (HS-03)