Harga Getah Karet Anjlok, Petani Berharap Keajaiban

TIMBANG : Proses penimbangan getah karet basah di salah satu pengepul di Tebing Tinggi. Foto : Doc/Harian Silampari.

SILAMPARI ONLINE, EMPAT LAWANG – Harga getah karet (latex) di tingkat petani di Kabupaten Empat Lawang, terjun bebas dari sebelumnya bertahan diangka Rp 5 ribu per kilogram (kg), kini hanya menyisahkan Rp 3 ribu per kg-nya.

Menurut salah seorang petani karet, Abdul Karim salah seorang warga Talang Banyu, Kelurahan Tanjung Kupang Tebing Tinggi mengatakan, semakin jatuhnya harga karet, sejak adanya isu virus korona menyebar.

Muat Lebih

“Ya, sempat diatas Rp 5 ribu, lalu turun Rp 4,5 ribu lanjut lagi turun Rp 4 ribu dan kini hanya Rp 3 ribu saja,” ungkap Abdul Karim kepada wartawa, Kamis (26/3).

Terutama dalam seminggu terakhir, kata dia penurunan harga komoditas utama petani di Kecamatan Tebing Tinggi dan Kecamatan Saling, Kabupaten Empat Lawang tersebut, benar-benar signifikan.

“Bayangkan, tiga hari yang lalu saya jual getah karet, itu masih Rp 4 ribu, tapi sekarang sudah Rp 3 ribu,” ujarnya.

Dia mengaku sempat tidak percaya jika harga karet sedemikian turunnya. Makanya dia sempat bertanya soal harga ke tengkulak lain, namun tetap dikatakan jika harga getah karet turun, alasan para tengkulak, karena getah karet tidak bisa dikirim ke luar daerah, karena adanya soal virus korona.

“Yang saya khawatirkan jika tidak ada lagi serapan atau pembeli getah karet petani, hari ini ada harganya Rp 3 ribu besok turun lagi Rp 2 ribu dan terakhir tidak ada lagi tengkulak yang beli karet, lalu kami petani makan apa,” imbuhnya.

Senada dengan itu, salah seorang warga lainnya, Iwan menimpali, jika dirinya menyadap karet bukan milik sendiri, dirinya hanya penyadap dengan sistem bagi hasil. Dengan kondisi harga karet yang hanya Rp 3 ribu per kg, tentu sangat memukul ekonomi keluarganya.

“Dalam tiga hari menyadap, saya hanya mampu menyadap 40 kg getah karet, kalikan saja, hanya Rp 120 ribu dibagi dua dengan pemilik kebun, Rp 60 ribu. Jadi, penghasilan saya hanya Rp 20 ribu per harinya, sebulan hanya bisa menyadap 24 kali,” urainya.

Sebelum ada isu virus korona saja sebut dia, harga getah karet sudah tidak realistis dengan harga kebutuhan pokok saat ini, apa lagi ditengah isu pandemi virus korona.

“Kami rakyat kecil, hanya berharap ada keajaiban yang bisa mengangkat ekonomi kami. Dan saya khususnya, maunya pindah usaha saja, tapi apa mau dikata, bisanya cuma nyadap karet,” ucapnya lirih. (frz)