Hindari Monster Jahat Dengan Perut Yang Sehat

Oleh : Suci Aida Fimba

Menjadi pribadi yang sehat merupakan salah satu determinan manusia untuk meraih kebahagiaan dalam kehidupan. Dengan perumpamaan apabila tubuh kita sehat, maka segala urusan yang akan kita lakukan akan terlewatkan dengan mudah. Banyak aspek kesehatan yang menjadi tolak ukur agar tubuh ini dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Mulai dari segi gaya hidup, aktivitas fisik, konsumsi makan dan minum, bahkan kondisi lingkungan di sekitar kita juga sangat mempengaruhi kesehatan tubuh. Dari semua determinan tersebut, konsumsi jenis makanan yang kita makan setiap harinya juga mendapat perhatian yang tak kalah penting, mengingat makanan dinilai dapat dijadikan sumber energi terpenting dalam tubuh. Dengan status nya sebagai sumber energi, maka kita perlu memperhatikan jenis makanan apa yang masuk kedalam perut kita baik makanan pokok dalam lingkup tiga kali sehari ataupun jajanan ringan sebagai pemuas selera saja.

Muat Lebih

Didalam keseharian saja, sudah banyak aneka makanan yang dijual oleh para pedagang kaki lima yang mungkin tak pernah terfikirkan oleh kita apa saja kandungan yang terkandung didalamnya baik yang kaya akan gizi maupun adanya bahan pengawet dan sejenisnya. Hal ini tentu tidak dialami oleh para siswa sekolah saja, status sebagai anak kuliahan dan dituntut kondisi sebagai anak kos pun juga tak bisa dihindari. Dengan contoh pengkonsumsian makanan dan minuman yang mengandung bahan pemanis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh US Nationality Library of Medicine menyebutkan bahwa makanan atau minuman dengan kadar gula yang tinggi dapat sangat mempengaruhi proses kerja insulin didalam tubuh yang akan berdampak pada resistensi insulin. Akibatnya tubuh kita tidak dapat merespon insulin, dan apabila terjadi secara terus menerus maka akan meningkatkan produksi hormone estrogen dan progesterone. Apabila produksi kedua hormone tersebut tidak terkendali, maka akan meningkatkan resiko kanker. Dalam laman Better Health menekankan bahwa pemanis tersebut digolongkan dalam siklamat, aspartame, dan sakarin. Jadi, konsumsi terhadap makanan dan minuman mengandung pemanis seperti es yang terkemas dalam sachet sedapat mungkin dihindari. Contoh lain yaitu kebiasaan mengonsumsi makanan yang diolah dengan dibakar. Menurut laman resmi Hello Sehat, pengolahan makanan dengan cara dibakar dapat membentuk senyawa berbahaya yaitu heterocyclic amine (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH) yang keduanya termasuk dalam zat karsinogenik yang dapat memicu kanker. Seperti yang kita ketahui bahwa jenis makanan yang diolah dengan cara dibakar seperti olahan sosis bakar, bakso bakar dan yang lainnya sudah sangat banyak ditemukan.

Kategori makanan dan minuman tersebut dapat termasuk dalam makanan cepat saji yang sangat mudah didapatkan terutama pada pedagang kaki lima. Kebiasaan siswa sekolah ataupun mahasiswa yang ingin memakan makanan yang simple, mudah didapat, dan tidak terlalu mengenyangkan membuat kebiasaan pengkonsumsian jenis makanan dan minuman tersebut sedikit sulit untuk dihindari, terlebih lagi varian dari jenis makanan cepat saji yang berbeda-beda. Dari penelitian yang dilakukan oleh (Triwijayati, 2016) menjelaskan bahwa terdapat upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir adanya pengkonsumsian jajanan atau makanan cepat saji terhadap siswa sekolah yaitu dengan cara memberdayakan suatu komunitas seperti guru, kepala sekolah dan anak didik untuk sama-sama memahami tentang keamanan pangan, memonitoring penjualan jajanan yang ada dikantin, melakukan penyuluhan ke sekolah terkait mengenai standar sanitasi, dan penyuluhan terhadap para pedagang yang harus mengikuti pelatihan serta adanya peran Dinas Kesehatan sebagai Pembina UKS di sekolah.

Dari bahayanya makanan cepat saji atau aneka jajanan kaki lima, tingkat kewaspadaan kita terhadap makanan bukan hanya terpacu pada baik buruknya kandungan gizi yang terkandung, namun cara pengolahan dan teknik penyimpanan makanan dalam ruangan pun juga penting untuk diperhatikan. Faktor tersebut bukan tidak mungkin dapat menyebabkan makanan menghasilkan zat berbahaya yang akan berubah menjadi racun dalam tubuh. Menurut laman Hospital Care of Children : Global resource for addressing the quality of care mengemukakan bahwa keracunan makanan merupakan sebuah pengkonsumsian makanan yang telah mengandung toksik atau zat berbahaya yang telah terkontaminasi yang didapat dari bakteri, virus, toksin, parasite, dan jamur. Jenis bakteri yang dapat menimbulkan gejala keracunan makanan adalah salmonella, campylobacter, listeria, dan Escherichia colli (E. colli). Berdasarkan publikasi World Health Organization (WHO) dalam foodborne illneses menyatakan bahwa bakteri dapat dengan cepat berkembang biak pada makanan yang mengandung karbohidrat dan protein dan berada pada suhu 5-600 Celsius yang dapat disebut sebagai “zona bahaya makanan”. Oleh karena itu, kasus keracunan makanan dapat terjadi apabila pengolahan dan penyimpanan makanan dilakukan disaat suhu/musim panas terjadi.
Berdasarkan data dari Direktorat Kesehatan Lingkungan dan Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) pada tahun 2017 mencatat adanya KLB keracunan makanan dengan jumlah kasus sebanyak 163 kejadian, 7132 kasus diantaranya dengan Case Fertality Rate (CFR) sebesar 0,1%. Adanya laporan tersebut menjadikan kasus keracunan makanan berada di urutan ke-2 KLB setelah difteri, yang merupakan suatu masalah yang sangat serius untuk diatasi. Kategori makanan yang dapat dengan mudah ditumbuhi oleh bakteri penyebab racun makanan yaitu daging, unggas, produk olahan susu, nasi, buah yang keseluruhannya pada saat diolah berada dalam kondisi tidak dimasak hingga matang, khususnya bagi olahan daging pada makanan cepat saji, tidak menyimpan bahan makanan yang harus disimpan dalam suhu dibawah 50 dengan benar, membiarkan makanan yang telah matang di suhu ruang selama lebih dari 1 jam, ataupun mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh penderita penyakit tertentu seperti diare atau muntah-muntah. Untuk menghindari kasus keracunan makanan tersebut, yang dapat kita lakukan adalah dengan mengikuti 5 petunjuk keamanan pangan yang dianjurkan oleh World Health Organization diantaranya yaitu menjaga kebersihan makanan, menyimpan makanan dalam suhu yang aman, memasak makanan hingga matang, memisahkan antara makanan mentah dan matang, serta menggunakan air bersih dan bahan pangan yang masih segar.
Maka dari itu, perlu untuk kepedulian terhadap diri kita sendiri mengenai asupan apa saja yang telah masuk kedalam perut kita di setiap harinya, jangan sampai hanya karena harga murah, penampilan fisik yang menarik lantas membuat kita melupakan kandungan gizi yang ada didalam makanan tersebut serta cara pengolahan makanannya yang seperti apa. Karena yang merasakan kondisi kesehatan dan peduli pada diri sendiri itu tentunya adalah kita yang merasakan. Bukan dia, atau orang lain. Jadi pastikan, isi perut kita aman dari monster jahat yang bersembunyi dibalik menariknya tampilan fisik suatu makanan.

Penulis : Mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya