Ini Dampak Langsung Akibat Kebakaran Besar di Gunung Merbabu


SILAMPARI ONLINE

Kebakaran hutan di Gunung Merbabu diperkirakan telah menghanguskan sekitar 260 hektare lahan. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Junita Parjanti, mengungkapkan dampak yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan itu.

Muat Lebih

“Karena ini adalah kawasan konservasi, keanekaragaman hayati terkait flora dan fauna pasti terganggu,” kata Junita kepada detikcom Sabtu (14/9/2019). Namun, pihaknya belum bisa mendata satwa-satwa yang terganggu akibat kebakaran di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Pihaknya masih fokus pada upaya pemadaman.
Dampak lainnya, lanjut dia, yakni terkait dengan sumber mata air yang dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu terdapat 39 mata air yang dimanfaatkan oleh warga sekitar, baik di wilayah Kabupaten Boyolali, Semarang dan Magelang. “Pipa-pipa airnya pasti akan mengalami kerusakan (akibat terbakar),” katanya.

Pihaknya masih mendata desa-desa yang distribusi air bersih terancam akibat terbakar. Menurut dia, ada tiga sumber air yang berpotensi terganggunya distribusi air ke kampung-kampung di bawahnya. “Yang terdeteksi terganggu itu ada tiga, di kecamatan Pakis itu ada Tuk Teyeng. Kemudian di kecamatan Kopeng, Tuk Klanting dan di kecamatan Ampel ada Tuk Sipendok,” jelas dia.

Desa yang terdampak langsung dari akibat terbakarnya pipa air yaitu Desa Gondangsari (Pakis), Desa Tajuk (Kopeng) serta Desa Ngagrong dan Desa Candisari (Ampel). Vegetasi yang terbakar berupa semak belukar dan tumbuhan bawah. Selain itu juga terdapat sejumlah tanaman keras. Pihaknya mengaku khawatir kebakaran yang di wilayah Ampel, jika sampai merembet turun. “Karena disana keanekaragamannya tinggi, disitu tempat kita pengamatan Elang Jawa. Pasti terganggu dia (Elang Jawa) ya, kasihan,” ucapnya.

Junita mengatakan, kebakaran tersebut masih jauh dari pemukiman penduduk.Titik api pertama kali terpantau sekitar pukul 19.30 WIB di wilayah Dusun Malang, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Kondisi cuaca yang panas dan angin yang bertiup kencang, membuat api cepat membesar dan merembet. Hingga akhirnya api merembet ke kawasan di wilayah Kabupaten Boyolali dan Semarang.

“Kami masih memperdalam lagi (penyebab kebakaran), apakah ini karena memang cuaca yang ekstrem atau ada pemicu dari aktivitas manusia. Kita masih mencari kebenarannya,” ujar Junita Parjanti. Dia mengatakan, penyebab kebakaran bukan dari ulah pendaki. Pasalnya, pertama kali terpantau adanya titik api di wilayah Dusun Malang, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang itu, cukup jauh dari jalur pendakian. “Kalau pendaki tidak, karena awal api muncul itu jauh dari jalur pendaki,” katanya.
*Sumber : Detik.com