Ini Dampak Negatif Belajar Online

Oleh : Darul Qutni

BERANJAK dari keputusan pemerintah, yang mengharuskan proses belajar siswa tingkat SLTA, SLTP bahkan SD menggunakan jaringan internet atau lebih dikenal di masyarakat dengan belajar online, karena masih dalam masa pandemi Covid-19.

Bacaan Lainnya

Di tingkat SD misalnya, semua wali murid diminta memilih setuju atau tidaknya pertemuan antara murid dan guru ditentukan tiga hari seminggu, selebihnya dilakukan secara online.

Persetujuan itu, kebanyakan dilakukan secara online dengan menggunakan akun whatsapp. Tentu hal ini mengharuskan para orang tua atau bahkan murid itu sendiri wajib memiliki handphone android yang bisa mendownload aplikasi tersebut.

Di masa pandemi Covid-19, semua terdampak. Baik instansi pemerintah, swasta, bahkan rakyat jelata atau rakyat biasa.
Instansi pemerintah tentu sudah kita ketahui, ada anggaran dana meski ada pemotongan dalam masa Covid-19 ini.
Apapun alasannya, harus berjalan dengan keterbatasan.
Sedangkan dari swasta, mengalami hal berbeda dari instansi pemerintah.

Dengan sumber dana dari perusahaan dan penurunan pendapatan perusahan, adanya hal tersebut mengharuskan perusahaan melakukan perampingan karyawan atau kasarnya dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Tidak sedikit PHK ini menambah semakin banyaknya jumlah pengangguran.
Lalu, di sisi rakyat jelata atau rakyat biasa.

Kebanyakan wali murid dari SLTA, SLTP, serta SD notabenenya berasal dari kalangan ini. Walau tidak ditampik, banyak pula wali murid yang berasal dari anak pegawai negeri yang mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya di masa pandemi ini. Bahkan pegawai negeri sekalipun merasa bingung, karena SK-nya tergadai di bank, yang harus dilakukan pemotongan gaji setiap bulan.
Adanya belajar secara online, hendaknya dapat ditinjau ulang. Disamping harus memiliki hp android bagi wali murid atau siswa, masalah kuotanya yang dinilai perlahan namun pasti, mengurangi belanja rumah. Saat ini wali murid mengutamakan kuota demi pelajaran anaknya ketimbang kesehatan keluarga.

Memasang wifi pun harus merogoh kantong setiap bulan. Sedangkan pendapatan rakyat biasa terbatas bahkan tidak ada sama sekali. Belajar secara online dinilai bukan membantu, bahkan cenderung menambah sengsara masyarakat.

Harga hasil pertanian menurun, lapangan kerja tidak ada. Bagaimana masyarakat mampu bertahan menghadapi pandemi Covid-19 dan membeli Hp android serta kuota internet yang diperlukan setiap saat. Dan tidak semua orang tua atau wali murid memiliki Hp android. Belum lagi dikhawatirkan efek internet yang ditakutkan, akan mengganggu para siswa. Orang tua atau wali murid, tidak selamanya mampu mengawasi anaknya, karena sibuk mencari untuk memenuhi atau mencukupi kebutuhan keluarga.

Penulis : Jurnalis Silampari Online