Kekecewaan Camat Saat Pembagian BLT Dinilai tidak Tepat

 

SILAMPARI ONLINE, KEPAHIANG – Pernyataan Camat Ujan Mas Kabupaten Kepahiang, Sofian Amsah SE di salah satu media online tentang kekecewaan dirinya karena tidak diundang pemerintah desa saat pembagian bantuan langsung tunai (BLT) yang bersumber dari dana desa (BLT-DD) tahap ketiga, dinilai tidak tepat.  Tak hanya dinilai kurang tepat, kekecewaan camat karena tidak diundang saat pembagian BLT-DD tahap ketiga di Desa Suro Lembak, itu dianggap kekanak-kanakan. Pasalnya, sudah ada alur yang jelas terhadap pembagian BLT-DD dari mulai tahap satu hingga tahap ketiga, yang dilaksanakan pemerintah desa.  Seperti yang disampaikan Ketua LSM NCW Kabupaten Kepahiang, Darul Qutni.

Bacaan Lainnya

Dia mengatakan kelakuan Camat Ujan Mas dengan memberi pernyataan di salah satu media online, dinilai kurang bijak dan tidak memahami tupoksinya sebagai camat selaku pembina kepala desa di wilayah kecamatannya.  “Pernyataan camat ini terlalu berlebihan. Apalagi pembagian BLT ini khusus untuk menyikapi masyarakat kurang mampu yang terdampak COVID-19, sebaiknya jangan dibesar besarkan jika membela kepentingan masyarakat,” ungkapnya.  Apalagi sambung dia, ditahap pertama pembagian BLT-DD, masing masing penerima sudah mendapat kartu ATM dan buku rekening. Bahkan Seperti di Desa Pungguk Meranti beberapa waktu lalu dihadiri berbagai pihak Untuk simbolis penyerahan BLT-DD namun kenyataannya mereka juga tutup mata terhadap masyarakat yang layak menerima atau tidak, seperti pada kasus Nenek Naima.

“Terbukti, setelah diberitakan oleh media online dan di-share ratusan orang baru ada yang peduli terhadap penerima yang layak, yakni Nenek Naima, jika seperti ini kejadian di masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Merigi Kepahiang, Aji Abdullah saat dimintai penjelasan terkait alur pembagian BLT-DD memaparkan, BLT-DD adalah bantuan lansung tunai yang dianggarkan melalui Dana Desa.

Sejumlah dana yang dianggarkan tersebut kata Aji Abdullah, sesuai dengan jumlah penerima, disetor oleh perangakat desa ke Bank yang telah ditentukan, misalnya BNI atau BRI.  Hal ini papar dia, juga sudah diatur oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang, dengan harapan dana BLT-DD benar benar tepat sasaran dan Tidak Fiktif. Alur selanjutnya tambah Aji, setelah pembagian BLT-DD secara simbolis yang dihadiri oleh pemerintah daerah, perwakilan Dinas PMD serta pihak Bank, Babinsa, Bhabinkamtibmas saat pencairan tahap pertama. Namun untuk pencairan tahap selanjutnya masyarakat dapat lansung mencairkan secara mandiri ke Bank.

Sebagai perbandingan, Aji Abdullah mengatakan, untuk pembagian BLT-DD tahap ketiga di kecamatannya, tidak ada lagi pembagian simbolis lagi. Karena BLT-DD sudah langsung masuk rekening masing-masing penerima. “Kapanpun bisa dicairkan. Kecamatan cuma berkordinasi dengan pihak bank dan mengatur jadwal desa agar pencairan BLT-DD tidak bertumpuk,” imbuhnya.

Seperti dilansir dari Media Online Sinar Nusantara News, Camat Ujan Mas Kabupaten Kepahiang, mengaku kecewa. Pasalnya dia tidak diundang saat pembagian BLT-DD tahap ketiga di Desa Suro Lembak dalam wilayah Kecamatan Ujan Mas.

Dalam berita itu juga dijelaskan jika Camat Ujan Mas mengaku datang ke Desa Suro Lembak, namun bukan karena ada undangan dari Pemdes Suro Lembak, tapi karena ada informasi dari “orang kantor camat” yang menyebutkan ada pembagian BLT-DD tahap ketiga di Desa Suro Lembak.

Selaku Camat Ujan Mas dan bertanggung jawab, camat mengklaim apapun kegiatan di wilayah sektor Ujan Mas ini dia harus tahu, dan oleh karena itu dia mendatangi desa tersebut, untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Namun, saat datang ke desa itu, dia merasa seperti tamu tak diundang pulang tidak dilarang. (KHS-06)