oleh

Lima Anggota FKUB Dikukuhkan

-Musi Rawas-133 Dibaca

Silampari OnlineĀ 

MUSI RAWAS- Sedikitnya lima anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Musi Rawas (Mura) secara resmi di kukuhkan oleh Wakil Bupati (Wabup) Mura Hj Suwarti, Kamis (1/4/2021) di Rumah Makan Bebek Gobar 45.

Pengukuhan lima anggota FKUB tersebut juga diikuti oleh seluruh pengurus FKUB Mura Masa Bakti 2018-2023

Pengukuhan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Mura Nomor 257/KPTS/BKPP/2021 tertanggal 23 Maret 2021 Tentang Susunan Pengurus FKUB Mura Periode 2018-2023.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Mura, Amran Muslimin mengatakan ada lima anggota FKUB yang baru dimasukan dalam struktur FKUB untuk menggantikan pengurus lama yang sudah tidak dapat melaksanakan tugas karena berhalangan dengan tugas mereka yang baru dan ada juga yang telah wafat. Adapun kelima orang tersebut diantaranya Kamiludin, Tukimin S.Pdi, David Pulung, Pdt. Titus Suwarno, Mardi Salam.

Dikatakannya, tugas dan fungsi FKUB sendiri telah tertuang dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pedoman pelaksanaan Tugas Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat.

Kemudian, FKUB Kabupaten/Kota mempunyai tugas melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat, menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat, menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan masyarakat dalam bentuk rekomendasi,Sebagai bahan kebijakan Bupati/Walikota, melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama dan pemberdayaan masyarakat dan memberikan rekomendasi tertulis atas permohonan pendirian rumah ibadat.

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Mura, Hj Suwarti dalam memberikan apresiasi atas kerja keras semua tokoh masyarakat dan agama yang berada di dalam FKUB yang telah dapat memberikan rasa keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan kehidupan beragama. Sehingga, dengan kondisi keberagaman agama di Mura namun kita dapat membuktikan bahwa tidak pernah terjadi konflik keagamaan, hal ini tentu menjadi prestasi yang harus terus di jaga secara bersama agar tetap tercipta kehidupan masyarakat Mura yang aman dan damai dalam bingkai persatuan dan kesatuan indonesia. (Musyanto)