oleh

Meskipun Sedikit, Hasilnya Bisa Sekolahkan Anak

-Tak Berkategori-325 Dibaca

Melihat Langsung Proses Produksi Gula Aren

Meskipun beberapa tahun lalu, sempat diterpa isu penggunaan deterjen dalam proses pembuatan gula aren, namun hal ini tidak mematahkan semangat petani aren di Kabupaten Rejang Lebong (RL). Apalagi Kabupaten RL termasuk salah satu kabupaten yang memiliki sentra gula aren atau gula merah di Provinsi Bengkulu.

Laporan : Badri/Rejang Lebong

SELAIN terkenal dengan petani sayuran, Kabupaten Rejang Lebong juga terkenal dengan sentra gula merah. Bahkan sentra gula merah tersebar di berbagai kecamatan seperti kecamatan Binduriang, Sindang Kelingi, Sindang Dataran serta kecamatan Selupu Rejang.

Tahun lalu gula merah asal RL sempat diterpa isu yakni penggunaan deterjen dalam proses pembuatannya, namun hal tersebut tidak sampai mematikan produksi gula merah di empat kecamatan tersebut.

“Sempat drop dan kesusahan karena diterpa isu penggunaan rinso, bahkan sampai kita seluruh petani aren didatangi untuk diberikan imbauan dan ini sempat membuat harga gula merah jatuh alias anjlok. Tapi kalau sekarang itu tidak lagi dan harganya sudah mulai stabil lagi,” terang Sukirman (42) warga Desa Air meles atas kecamatan Selupu Rejang, Selasa (3/4).

Sukirman Mengaku sejak menikah 14 tahun lalu, dirinya sudah memproduksi gula aren yang bahan pokoknya dari air nira atau dari pohon nau biasa mereka sebut. Meskipun menurutnya, produksi gula aren yang dilakukannya tidak banyak, tapi cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan untuk membiayai anaknya 2 orang yang yang saat ini anak tertuanya sudah kelas II SMA dan yang bungsu kelas 2 smp

“Usai menikah saya disarankan mertua untuk menyadap aren atau membuat gula merah dan proses belajarnya pun dari mertua dan dibantu juga oleh teman-teman lain,” kata Sukirman.

Setiap harinya, Sukirman dan para petani lainnya sudah berangkat dari rumah kisaran pukul 06.00 WIB ke kebun yang mempunyai jarak tempu sekitar 25 menit dengan menggunakan seepda motor bermodif trail karena jalannya masih tanah, untuk memulai aktivitas. Setelah tiba dikebun dirirnya langsung mengasah pisau sadap setelah itu langsung membawa penampungan air nira, dimana pohon aren berikutinya Sukirman melakukan penderesan atau pemotongan tipis-tipis bunga atau bongkot muda aren di dilakukan penampungan. Proses penampungan ini membutuhkan waktu lebih kurang antara 10-12 jam lamanya.

“Sebenarnya, sebelum pemotongan bunga aren terlebih dahulu melewati proses penyiapan seperti membersihakan serta memukul pohon aren supaya lunak dan gampang mengeluarkan air nira ketika dipotong selanjutnya diiris tipis-tipis dan melakukan penampungan setiap pagi dan sore hari,” papar Sukirman.

Proses penampungan dilakukan dua kali dalam sehari dan hasil tampungan pagi hari, di panen atau diambil menjelang sore hari sekaligus kembali menampung dan akan diambil pagi harinya, seperti itu setiap harinya. Dalam 2 kali tampung, setiap pohon bisa menghasilkan hingga 5 liter dalam sehari. 5 liter air nira tersebut bisa menghasilkan atau diolah menjadi 1 kilogram gula merah.

“Kalau saya, satu hari bisa mengumpulkan antara 25 hingga 35 liter air nira dan memproduksinya menjadi 5 sampai 7 kilogram gula aren setiap hari. Setelah jadi gula, kita jualnya ke penampung atau tauke dan sekarang harganya kisaran sepuluh ribu hingga dua belas ribu/kilo. Jadi cukup lumayan, bisa ada penghasilan tambahan tujuhpuluh ribu hingga seratus ribu setiap hari,” sambung Sukirman.

Setelah air nira atau niro disuling dari pohon aren lalu dimasak dalam kuali besar. Api menggunakan kayu bakar agar panasnya maksimal dan membuat air nira menjadi benar-benar masak. Proses memasak air nira bisa memakan waktu hingga 6 jam lamanya. Selama dimasak, tidak ada campuran apapun yang diberikan pada air nira kecuali kemiri tumbuk.

“Kalau sudah mulai mendidih, diaduk terus dan nanti lama kelaman warna airnya akan berubah kecoklat-coklatan serta mengental. Kalau sudah mulai mengental baru kita cetak dengan batok kelapa, setelah dingin siap dijulakan ke toke-toke pengepul gula merah,” lanjutnya.

Para petani aren berharap pemerintah bisa membantu mereka agar bisa tetap bertahan untuk memproduksi gula aren. Salah satunya dengan menjaga stabilitas harga gula aren di pasaran.

“Salah satu yang paling kita harapkan, yaitu soal stabilitas harga. Kalau harga bisa stabil kita juga bisa bertahan hidup,” tandas Sukirman. (**)

Tentang Penulis: admin

Gambar Gravatar
Harian Silampari merupakan nama daerah di Bumi Silampari yang memiliki tiga wilayah satu kota dan dua kabupaten di provinsi Sumsel