Meteran Diblokir, Pelanggan Laporkan PLN ke BPSK

Sejumlah pelanggan PLN yang mengantre karena ada masalah pada meteran listriknya, Selasa (11/9/2019). foto Dedi Kariema Jaya/Musi rawas Ekpres

SILAMPARI ONLINE

MUSI RAWAS-Dicap menunggak tagihan listrik sewaktu migrasi prabayar atau peralihan dari sistem manual ke token tahun 2015 lalu, aliran listrik rumah milik Panca Riatno, pelanggan PLN warga Kompleks Citra Regency Lubuk Kupang Lubuklinggau Selatan I, diblokir dan otomatis padam.

Muat Lebih

Atas kejadian tersebut, Panca melapor ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) karena merasa dirugikan. Selama ini, Panca mengaku mengikuti semua aturan dan telah menjadi warga negara yang baik dan patuh. Menunaikan semua kewajiban termasuk sebagai pelanggan listrik PLN. “Tentu sangat terkejut dan malu, listrik saya diblokir karena diberitahukan menunggak pembayaran listrik saat peralihan dari manual ke token tahun 2015 lalu. Sebab selama itukah saya menunggak, sejak tahun 2015 tanpa pemberitahuan, konfirmasi dan apapun namanya,” kata Panca penuh kecewa.

Sebagai warga negara serta pelanggan yang patuh, Panca mengatakan tetap membayar yang katanya tunggakan tahun 2015 dengan jumlah cukup fantastis Rp 765.268 agar blokir bisa dicabut dan bisa membeli token sehingga listrik dapat kembali nyala. Namun demikian Panca juga tetap melaporkan kejadian tersebut ke BPSK.

“Banyak sekali yang memunculkan pertanyaan. Mulai dari jumlah tunggakan yang jumlahnya hampir melebihi pembayaran satu bulan. Kemudian sama sekali tidak ada sosialisasi apalagi surat pemberitahuan mengenai tunggakan dan termasuk sanksi atau ancaman akibat tidak tunggakan melainkan langsung pemblokiran. Malu saya rasanya dicap sebagai warga yang tidak patuh, menunggak itu sama dengan hutang selama empat tahun sejak 2015 yang sama sekali tidak saya ketahui. Kalau diberitahu sejak lama secara baik-baik, saya pasti membayarnya kalau itu memang hutang saya dengan dasar perhitungan dan akad yang jelas,” imbuh Panca yang juga kecewa dengan pelayanan PLN yang low respon atas laporan pelanggan.

Panca mengaku, ia telah memenuhi segala syarat dan kewajiban ketika mengajukan permohonan migrasi prabayar ke PLN. Termasuk membayar pemakaian listrik manual. “Salah satu syarat migrasi ke token, ya harus bayar dulu tagihan listriknya. Makanya waktu itu diproses dan setelahnya tidak ada pemberitahuan dari pihak PLN mengenai tunggakan. Makanya saya melaporkan ini agar ada upaya konkret dari PLN, minimal sosialisasi dan pemberitahuan agar pelanggan tidak merasa dirugikan. Jalankan aturan dan prosedurnya secara jelas, jangan semena-mena hanya untuk mengejar target pendapatan tapi pelanggan jadi sasaran,” harapnya.

Manager PLN Muara Beliti, Zera Fitrizon saat dikonfirmasi Musirawas Ekspres membenarkan pemblokiran tersebut. Menurut dia, pemblokiran akibat ada tunggakan saat migrasi prabayar 2015 lalu dan itu adalah kewenangan pusat.
“Mungkin sewaktu proses migrasi prabayar ada pembayaran listrik manual, misalnya setengah bulan setelah migrasi ke token tersebut. Okelah kami bantu kasih registrasinya dan silahkan bayar,” kata Zera memberikan solusi agar blokir listrik bisa dicabut. Ia menambahkan, selama ini tidak pernah ada memberikan informasi terkait tunggakan tersebut ke pelanggan. Alasannya simpel, itu kebijakan pusat.

Sementara itu, Manager PLN Lubuklinggau, Mustofa yang pertama dimintai penjelasan menyerahkan sepenuhnya penyelesaian kepada PLN Muara Beliti. “Saya baru tiga bulan di Lubuklinggau. Masalah ini sudah saya kroscek, ternyata Panca Riatno tercatat sebagai pelanggan PLN Beliti. Mengenai tunggakan saat peralihan listrik pasca dan pra bayar, itu sistem yang bekerja. Mungkin masih ada pemakaian yang belum dibayar,” terang dia.

Terpisah, Ketua BPSK Lubuklinggau, H Nurusulhi Nawawi mengaku telah menerima laporan lisan terkait keluhan yang dialami Panca Riatno. “Kami masih menunggu laporan tertulis, jadi belum bisa ditindaklanjuti,” kata Nun, sapaan H Nurusulhi Nawawi. (pnc/dkj/Musi Rawas Ekpres/SO)