Oknum Mantan Kadisdik dkk Ditahan

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : ISTIMEWA</div></small> <strong>TIPIKOR :</strong> Empat tersangka Tipikor dan dua tersangka kasus pidana umum saat berada di Lapas Lubuklinggau Klas II A, Senin (7/1).

Silampari Online,

LUBUKLINGGAU –Awal tahun 2019, Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau mulai menunjukkan ketegasannya. Senin (7/1), korps adyaksa ini menahan empat orang tersangka kasus korupsi dalam pembangunan gedung AKN (Akademi Komunitas Negeri) di Muratara tahun 2016.

Muat Lebih

Keempat tersangka itu bernama Fahrurozi, Feri Susanto, Firdaus (mantan Kadisdik Kabupaten Muratara) dan Muhammad Subhan.  Sebelum ditahan di Lapas kelas II A Lubuklinggau, Penyidik meminta keterangan untuk melengkapi berkas perkaranya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Kejari Lubuklinggau mengantarkan keempat tersangka ke Lapas Lubuklinggau. Mereka diterima petugas Keamanan Lapas, Arif dkk. Lalu diamankan di ruangan Mapenaling atau pengenalan.

“Bertempat diruang tindak pidana khusus, tadi telah diperiksa dulu sebelumnya empat orang tersangka,” ujar Kepala Kejari Lubuklinggau, Zairida. 

Lebih lanjut, pihaknya melakukan penahanan atas alasan subjektif dan objektif. Dimana dalam pasal 21 ayat 1 menjelaskan, bahwa alasan pihaknya melakukan penahanan karena khawatir yang bersangkutan melarikan diri. Kemudian khawatir menghilangkan barang bukti dan bisa nanti mengulangi perbuatan lagi.  

“Jadi itu alasan subjektif,” bebernya.

Selain itu, alasan objektif antara lain, tindak pidana yang diancam adalah diancam lima tahun keatas. Dan yang paling penting adalah guna kepentingan penuntutan, karena mungkin dalam waktu dekat pihak Kejari Lubuklinggau akan melakukan penuntutan. 

“Karena penututan ini bukan di Lubuklinggau, penuntutan ini kita laksanakan nanti di palembang, di PN tipikor. Karena disini belum ada PN tipikor,” timpalnya.  

Ditanya apakah bakal ada tersangka baru, Kajari mengatakan kalau nanti ada fakta-fakta dipersidangan atau fakta pemeriksaan, pihaknya akan menindaklanjuti jika ada keterlibatan tersangka lain. 

Sementara itu, hasil pemeriksaan dan perhitungan kerugian keuangan negara maupun perhitungan dari ahli konstruksi, sudah menemukan besaran kerugian keuangan negara dari kasus korupsi AKN yakni lebih kurang Rp7,9 miliar. 

“Jadi uang yang telah kita lakukan penyitaan sebagai barang bukti mendekati 900 juta, mendekati 1 miliarlah. Mungkin nanti ada pengembalian-pengembalian lagi, kita tidak tahu selanjutnya,” pungkasnya. 

Terpisah kuasa hukum dari Firdaus dan Fahrurozi yakni Gabriel mengatakan ada ketidak adilan didalam perkara ini.  Dan pihaknya meminta pihak kejaksaan negeri Lubuklinggau mengusut tuntas sampai kepada proses selanjutnya.

“Karena beliau, tersangka ini, kadisdik ini, dia hanya sebatas sampai ditingkat 70 persen. Nah 30 persen keatasnya harus ada yang bertanggung jawab,” bebernya.

Sambung Gabriel, kalau tidak, maka akan menjadi preseden buruk buat kejaksaan. “Kalau tidak dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan dan ada tersangka baru diatas yang 30 persen diatas,” ungkapnya. 

Pada prinsipya, pihaknya patuh, proaktif terhadap proses hukum ini. Dan pihaknya akan mengambil langkah-langkah hukum kedepannya

Kalapas Lubuklinggau kalas IIA, Imam Purwanto membenarkan, pihaknya telah menerima titipan tahanan Kejari Lubuklinggau sebanyak empat orang, salah satunya mantan Kadisdik Muratara Firdaus.

“Kita masukkan dalam ruang mapenaling atau pengenalan warga baru yang masuk dalam lingkungan Lapas,” jelas Imam Purwanto.

Lanjut dia, meskipun mereka tahanan Tipikor namun pelayanan pegawai Lapas Lubuklinggau tidak dibeda-bedakan atau sama semua warga binaan.

“Ya, nanti dimasukkan dalam kamar bersama tersangka lainnya,” ujarnya. (HS-01/Sumeks)