PCNU Musirawas Berduka,KH A Yasin Asmuni, Ulama NU Pengarang Ratusan Kitab Wafat

Silampari Online,

Musi Rawas – Innalillahi wainna ilahi rajiun. Kembali dunia pesantren dan Nahdlatul Ulama berduka. Kali ini yang wafat adalah KH A Yasin Asmuni, tepatnya Senin (11/1/2021) bakda Shubuh.

Bacaan Lainnya

Ketua tanfidiyah PCNU kabupaten Musi Rawas Kiai Ustman Syafi’i kepada Silampari Online Senin (11/1/2021) mengatakan atas nama keluarga besar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Badan Otonom (Banom),serta lembaga NU kabupaten Musi Rawas mengucapkan turut berbela sungkawa atas wafatnya KH. A Yasin Asmuni.

Dirinya juga Mengajak kepada seluruh pengurus NU dan Banom serta Lembaga- lembaga Nahdlatul Ulama (NU) di masing – masing tingkatannya yang ada di kabupaten Musi Rawas untuk melaksanakan sholat Ghoib.

Semoga karya KH.A Yasin Asmuni selama hidupnya selalu menjadikan inspirasi bagi kita dalam berharokah di Nahdlatul Ulama. Tutupnya

Kepastian wafatnya KH A Yasin Asmuni ini disampaikan Ustadz Dafid Fuadi, Ketua Pengurus Cabang Aswaja NU Center Kabupaten Kediri. KH A Yasin Asmuni merupakan kiai langka. Di usianya yang belum terlalu sepuh telah menghasilkan tidak kurang dari 200 karya tulis yang 95 persen adalah berbahasa Arab. “Karyanya lintas perspektif dari tafsir hingga fiqh. Dari tasawuf hingga aqidah dan seterusnya. Di antara ciri khas karyanya, singkat, padat, praktis dan mudah dipahami,” kata Rijal Mumazziq Z.

Dalam pandangan Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kota Surabaya tersebut bahwa kemampuan dalam menulis kitab Kiai Yasin, sapaan akrabnya lahir karena tempaan dari para Masyayikh Lirboyo. Juga lantaran ketelatenannya dalam mengumpulkan referensi lantas mengolahnya menjadi karya otentik. Almarhum yang juga Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini dikenal sebagai senior dalam kajian bahtsul masail di level Jawa Timur, maupun nasional. Kiai Yasin, sapaan akrabnya punya kemampuan analisis teks yang mumpuni yang disertai dengan ulasan panjang yang sangat memikat.

“Kebiasaan berdiskusi panjang disertai maraji’ komplit ini yang membuat kemampuan Kiai Yasin berkembang. Lebih mudahnya mungkin seperti ini, ada masyarakat bertanya, Kiai Yasin memberikan jawaban yang sangat panjang dan komplit, lalu dikembangkan lagi menjadi sebuah kitab,” jelas Rektor Inaifas, Kencong, Jember tersebut. Karya Kiai Yasin di antaranya Tafsir Bismillahirrahmanirrahim, Tafsir Muawwidzatain, Tafsir Al-Ikhlas, dan Tafsir Ayat Kursi, serta Udhiyyah Ahkamuha wa Fadlailuha. Selain banyak karya, Kiai Yasin yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Pethuk, Semen, Kediri, ini juga mempopulerkan ‘kitab makno Pethuk’.

“Itu adalah jenis kitab kuning, tebal maupun tipis, klasik maupun kontemporer, yang sudah diberi makna gandul, sudah ‘sah-sahan’, penuh terjemahan antar baris atau interlinear translation,” ungkap Rijal.

Harga jualnya lebih tinggi dibandingkan dengan kitab kosongan. Dan, sampai saat ini, di beberapa koperasi pondok pesantren, biasanya juga menyediakan Kitab Makno Pethuk ini. Pesantren dan NU tentu saja sangat kehilangan atas wafatnya KH.A Yasin Asmuni. (Musyanto)