Pedagang Ayam di Lubuklinggau Terancam Gulung Tikar


SILAMPARI ONLINE
, Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia dan pembatasan sosial menyebabkan harga ayam terus menurun. Berkurangnya aktivitas masyarakat demi mencegah penyebaran corona ternyata menyebabkan permintaan akan komoditas tersebut semakin menurun.

Hal ini dialami oleh seorang pedagang ayam yang ada di Pasar Inpres, Pepi. Turunnya permintaan sudah dirasakan para pedagang ayam potong semenjak 2 minggu terakhir. Kondisi ini, membuat mereka terancam gulung tikar.
Seorang pedagang Ayam di Pasar Inpres Lubuklinggai Pepi mengatakan harga ayam potong jenis broiler saat ini harga 1 Kilogramnya sudah turun Rp 25 ribu dari harga biasanya yakni Rp 28 sampai Rp 30 ribu perkilonya.

Bacaan Lainnya

“Karena permintaan turun. masyarakat ke mana-mana sudah tidak boleh dan acara sedekahan tidak boleh berkumpul sehingga yang beli sepi,”kata Pepi saat dijumpai di lapak dagangannya, Rabu (8/4).
perempuan 47 tahun tersebut menjelaskan jika dalam satu pekan ini saja orang yang sedekah kurang, namun stok ayam banyak. Dirinya tak menampik bahwa hal ini terjadi sebagai dampak adanya Corona Virus. Alasan ini disampaikan oleh Pepi, karena semula saat harga ayam masih Rp 30 ribu, peminatnya sedikit. Bukan hanya ibu rumah tangga, melainkan juga rumah-rumah makan pun mengurangi pembelian daging ayam.
Menurutnya, sejak harga daging ayam turun dirinya bisa menjual sekitar 50 kilogram dalam sehari.ia mengungkapkan, saat ini semenjak virus corona dan pembatasan sosial menyebabkan pemesan ayam menurun. Biasanya mamasukin bulan ruah pemesan meningkat tetapi sekarang susah.

“Orang nikahan tidak boleh, sedekah ruah tidak boleh, sehingga orang yang beli ayam jadi sepi,”ungkapnya mengeluh.

Ia mengaku semenjak virus corona ini menghabiskan 30 Kilogram sehari saja susah sekali, biasaya pukul 11.00 WIB sudah pulang ke rumah, sekarang sampai pukul 16.00 WIB pun kadang belum tentu habis. (*)

sumber : Harian Silampari