Pelayanan RSIA Dwi Sari Dikeluhkan

Silampari Online 

LUBUKLINGGAU- Pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Dwi Sari Lubuklinggau dikeluhkan oleh pasien dan tenaga kesehatan yang memiliki tempat praktek.

Bacaan Lainnya

Warga Kabupaten Musi Rawas (Mura), Bidan Endah Lestari kepada Silampari Online sabtu (9/1/2021) mengatakan, saat melakukan pendampingan merujuk pasien persalinan, pasien yang ia bawa tidak segera di tangani.

Ia mengaku saat datang pintu gerbang tidak kunjung dibuka, petugas jaga RSIA Dwi Sari yang menerima kedatangan pasien juga tidak langsung menangani pasien. Akan tetapi malah sibuk menanyakan administrasi pasien.

“Kami sebagai tenaga kesehatan faham tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) Rumah Sakit, tetapi seharusnya pihak RSIA Dwi Sari juga dapat melihat kondisinya seperti apa, jika memang darurat pasien itu cepat untuk membutuhkan pertolongan seharusnya ditangani dahulu pasiennya ini kan urusannya dengan kemanusiaan, nyawa yang menjadi taruhan,”Endah.

Menurut ia, untuk persoalan rujuk merujuk pasien ini bukan yang pertama baginya dan tidak sedang membandingkan dengan pelayanan ditempat yang lainnya.

“Pengalaman saya penanganan pasien ke gawat daruratan yah seperti itu, kedepankan dulu nilai-nilai kemanusiaannya administrasi kan bisa menyusul,”terangnya.

Selain penanganan pasien yang kurang tanggap. Maka ia juga mengkritik cara RSIA Dwi Sari memperlakukan posisinya sebagai tenaga kesehatan yang mendampingi pasien juga kurang mengenakkan. Sebab, mereka tidak mengedepankan prinsip membangun kemitraan yang baik.

“Kami tenaga kesehatan pendamping kok di marah marahin, di acuhkan, kami ini kan mitra bukan karyawan atau bawahan yang layak di marahin ketika melakukan kesalahan dan kalau memang ada kekurangan administrasi terhadap pasien yang di dampingi saat rujukan mestinya disampaikan dengan baik-baik dan pada tempatnya bukan di tempat umum apalagi didepan pasien. Kita kan sama-sama satu profesi sebagai tenaga kesehatan saling menjaga perasaan,”paparnya.

Terlepas dari itu, dirinya berharap kepada pihak RSIA Dwi Sari untuk memperbaiki layanan yang ada. Apalagi, RSIA Dwi Sari  sudah cukup terkenal apalagi untuk masyarakat Mura. Sebab, ia secara pribadi termasuk pelanggan RSIA Dwi Sari, mulai dari anak yang pertama sampai anak kedua kontrol dan konsultasi kesehatan kandungan di RS Dwi Sari. Sehingga, keluhan yang disampaikan ini adalah bentuk perhatian dan harapan semoga pelayanan di RSIA Dwi Sari dapat lebih baik dan Standar Operasional Prosedur (SOP)  yang ada di RSIA Dwi Sari dapat di sosialisasikan atau di sampaikan kepada tenaga kesehatan yang memiliki tempat praktek jika ingin merujuk pasien ke RSIA Dwi Sari harus melengkapi beberapa syarat administrasi pasien. Sehingga pasien yang datang tidak ada lagi permasalahan tidak mendapatkan pelayanan maksimal akibat kekurangan administrasi pasien.

Pengalaman mendapatkan pelayanan yang kurang maksimal juga di utarakan salah satu pasien yang tidak mau disebutkan namanya ia mengaku kalau petugas jaga dan perawat di sini tidak ramah, senyum sapa saat melayani pasien tidak ada. Pasien ini kan manusia punya perasaan dan hati masa diperlakukan seperti benda mati.

Menanggapi keluhan itu, Direktur RSIA Dwi Sari dr. Efrina menjelaskan sejauh ini pihaknya mengaku sedang berusaha dengan semampu mereka. Terutama yang berhubungan dengan fasilitas dan pelayanan secara bertahap sudah mereka perbaiki. Namun, pihaknya berterimakaaih kepada semua pihak yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun dan ini menjadi bahan agar bisa lebih baik lagi kedepannya. Semua Standar Operasional Prosedur) SOP)  yang kami terapkan tidak ada maksud untuk membuat pasien atau pelanggan RSIA Dwi Sari menjadi merasa sulit mendapatkan pelayanan, kami hanya menerapkan prinsip kehati- hatian.

“Tidak sedikit pasien datang minta diberikan pelayanan yang baik tetapi saat selesai perawatan ternyata di proses akhir administrasi (pembayaran) bermasalah. Sehingga kami coba untuk menyiasati persoalan tersebut dengan proses kelengkapan administrasi (data pasien) diawal sebelum penanganan,”pungkasnya. (Musyanto)