Pembalakan Liar Ancam Satwa

Ilustrasi pembalakan liar. foto grafis Johansyah Harian Silampari

SILAMPARI ONLINE,  Kebakaran hutan dan pembalakan liar serta penjualan satwa langka yang dilindungi secara ilegal dapat merusak ekosistem, habitat puspa dan satwa yang dilindungi. Sehingga harus digencarkan sosialisasi dan patroli rutin di wilayah Balai Konservasi Sumber Daya alam (BKSDA) wilayah 1 Bengkulu –Lampung.

Hal ini dikatakan Kepala Unit Polisi Hutan (Polhut) BKSDA Wilayah I Bengkulu, Reza Alfitiansyah, Sabtu (2/11) di kantornya. Ia mengatakan setiap tanggal 5 November kita memperingati hari cinta Puspa dan satwa dilindungi dengan tujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan.

Muat Lebih

“Peringatan HCPSN sendiri pertama kali digagas pada tahun 1993 oleh Presiden Soeharto dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993. Pada saat itu, Soeharto mengajak kepada penduduk Indonesia pada umumnya untuk bisa melestarikan lingkungan hidup,” jelas dia.

Ia menyebutkan baru-baru ini BKSDA menggandeng para petani di tiga desa di Kabupaten Rejanglebong dan Kepahiang Provinsi Bengkulu, untuk menghijaukan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba yang sudah ditanami komoditas kopi dengan 150 ribu bibit pohon.

Tujuannya sambung Reza menghijaukan kembali wilayah tersebut sehingga tidak mengancam tumbuhnya Puspa langka, apalagi pada umumnya masyarakat membuka lahan dengan cara dibakar tentunya juga mengganggu ekosistem dan jika tidak terkontrol pembukaan lahan ini bisa menyebabkan kebakaran hutan. “Ditambah lagi perburuan satwa langka yang dilakukan secara ilegal untuk mengeruk keuntungan pribadi padahal hal ini jelas melanggar hukum dan mengkampanyekan cinta terhadap Puspa dan satwa liar harus digelorakan sehingga masyarakat memahaminya,”paparnya.  BKSDA juga menggandeng Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korwil Rejang Lebong untuk mensosialisasikan ke sekolah -sekolah sehingga cinta terhadap pupsa dan satwa langka.

 

Laporan  Badri Bagaskara