Pendapatan Travel Wisata Anjlok Hingga 60 Persen

Tempat wisata Ranu Manduro dengan latar Gunung Penanggungan (Twitter/@hafidzbashory_)

hariansilampari.co.id-Sejak mewabahnya virus corona pada akhir Desember 2019 sampai saat ini menyebabkan penjualan paket wisata mengalami penurunan yang tajam hingga 60 persen. Ditambah lagi, angka pembatalan perjalanan melonjak hingga 80 persen.

Pengusaha travel yang tergabung dalam Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) mengatakan, kebijakan insentif yang dilakukan pemerintah untuk mendorong wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan domestik kurang tepat. Hal ini, karena dengan semakin meluasnya penyebaran virus corona atau Covid-19 ke sejumlah negara tentu akan khawatir dan mengurungkan keinginananya untuk bepergian. Apalagi, saat ini virus mematikan itu telah menewaskan ribuan orang di dunia.

Bacaan Lainnya

Karena itu, Sekjen Astindo Paulina Suharno mengatakan, upaya insentif tidak akan berhasil mendongkrak jumlah wisman maupun wisatawan lokal. “Harga seberapa murah pun belum bisa membangkitkan minat orang untuk bepergian di tengah wabah virus corona di Jakarta semakin membuat khawatir,” kata dia, kemarin (4/3).

Memang pemerintah telah melakukan upaya insentif untuk memulihkan industri wisata, pemberian diskon tiket pesawat. Sementara, kata dia, pengusaha pariwisata yang dibutuhkan saat ini adalah keringanan beban operasional. Di negara Singapura, Malaysia, dan Hongkong, kata dia, telah memberikan keringanan operasional perusahaan. Yakni, mulai pemotongan pajak penghasilan dan properti, penurunan bunga kredit khusus untuk sektor pariwisata, hingga penurunan tarif dasar listrik. “Iya di negara-negara lain sudah mengeluarkan kebijakan untuk meringankan beban pengusaha travel, di Indonesia belum,” kata dia.

Tahun ini, lanjut dia, awan gelap bagi biro perjalanan wisata. Pasalnya imbas penyebaran virus corona telah menurunkan jumlah masyarakat yang mau bepergian, sementara beban operasional terus berjalan.

“Sementara anggota kami masih harus dibebani biaya operasional seperti sewa kantor, bunga bank, gaji karyawan, pajak, listrik, telepon, dan sebagainya,” ungkap Pauline.

Belum lagi menurut Pauline, beberapa larangan berpergian pun sudah diberikan. Juga adanya kewajiban karantina yang harus dilalui masyarakat sepulang dari luar negeri membuat orang semakin tidak ingin berpergian.

“Belum lagi peraturan perusahaan atau sekolah yang melarang staf atau muridnya masuk kerja maupun sekolah setelah pulang bepergian. Harus home quarantine 14 hari setelah tiba di Indonesia,” kata dia.

Senada yang dialami agent travel Bintang Dian Dalu Akirta. Dia mengatakan, tarif bagasi maskapai domestik yang tergolong mahal juga menyebabkan wisatawan Indonesia mengurangi frekuensinya untuk berwisata. “Wisatawan Indonesia, apalagi yang menempuh perjalanan jauh ke luar pulau misalnya, mereka pasti berbelanja oleh-oleh yang banyak. Namun, aktivitas itu sulit dilakukan saat ini, di tengah tarif bagasi yang sangat tinggi,” kata da.

Nah kondisi itu membuat pendapatan bisnis travelnya berkurang drastis pada tahun ini. Kata dia, penurunan pendapatan sepanjang tahun ini hingga 70 persen akibat kenaikan tiket pesawat terbang.

“Paket perjalanan ke Malaysia, seperti ke Melaka atau ke Singapura mengalami kenaikan tajam. Saat ini, paket perjalanan yang sedang naik selain paket wisata adalah paket perjalanan untuk berobat atau kesehatan,” katanya.

Adapun, berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pada semester I/2019 jumlah wisatawan nasional yang melakukan outbound sebanyak 5,3 juta wisatawan. Jumlah itu, meningkat sebesar 10 persen dari periode yang sama tahun lalu (yoy) yang mencapai 4,7 juta wisatawan. Pertumbuhan secara tahunan jumlah wisatawan RI yang melakukan perjalanan luar negeri pada Januari-Juni 2019, naik signifikan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode yang sama pada 2018. Pada semester I/2018 lalu pertumbuhan wisatawan yang melakukan outbound mencapai 4,32 persen secara yoy.

sumber : fin.co.id