Satu Untuk Semua

Pertanyakan Pupuk Subsidi

Silampari Online,

MUSI RAWAS- Sejumlah petani khususnya yang berada di Kecamatan Muara Lakitan mempertanyakan bantuan pupuk subsidi yang digulirkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas (Mura). Sebab, bantuan pupuk tersebut diklaim hanya ada nama dan harganya saja.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Anyar Kecamatan Muara Lakitan, Junaidi mengatakan, setidaknya ada 80 persen di Kecamatannya tersebut berprofesi sebagai petani. Sedangkan, sisanya merupakan pedagang, pegawai dan pengusaha.

“Kami warga Muara Lakitan mempertanyakan keberadaan bantuan pupuk subsidi. Sebab, sebagian besar masyarakat berprofesi disektor pertanian perkebunan,” keluh Junaidi kepada Harian Silampari, Minggu (20/5).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, masyarakat mempertanyakan keberadaan pupuk subsidi bukan tanpa alasan. Mengingat, bantuan pupuk di Muara Lakitan hanya ada nama dan harganya saja. Namun, tidak ada barangnya. “Untuk informasi yang saya dapatkan bahwa yang mendapatkan pupuk subsidi yakni kelompok tani. Akan tetapi, yang menjadi masalah saat ini kelompok tani tersebut apakah memang petani dan kami khawatir hanya mengatasnamakan petani saja,” terangnya.

Terlepas dari itu, dirinya berharap dengan kondisi tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mura dapat menindak lanjuti masalah ini. Bahkan, jika memang di Muara Lakitan ada pupuk subsidi tentunya dilakukan sosialisasi. Sebab sekarang petani perkebunan kesulitan untuk mendapatkan pupuk dan hampir diakui jarang mendapatkannya.

“Pada dasarnya pupuk subsidi bukan untuk orang yang memiliki perkebunan ratusan hektar. Akan tetapi, pupuk tersebut diberikan bagi masyarakat khususnya petani miskin,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Mura, Heryanto melalui Kabid Prasarana, Sarana dan Penyuluhan, Mangaratua menjelaskan, untuk tahun 2017 yang lalu disediakan alokasi pupuk subsidi. Diantaranya urea 5.258.47 ton, pupuk SP36 sbnyak 954,45 ton, pupuk ZA sbnyak 213,93 ton, pupuk UPK sbnyak 5.817,29 ton dan pupuk organik sbnyak 566,22 ton.

“Untuk harga eceran pupuk bersubsidi tahun 2017 dalam kemasan satu karung seberat 50 Kilogram (Kg) dan pupuk organik 40 kg. Dimana, untuk harganya pupuk urea Rp.1.800/kg, pupuk SP36 Rp.200/kg, pupuk ZA Rp.1.400/kg, pupuk UPK Rp.2.300/kg, dan pupuk organik Rp.500/kg,” beber Mangaratua.

Hanya saja, untuk mndapatkan pupuk subsidi ada persyaratan diantaranya petani harus menyusun RDKK. Bahkan, dalam penyusunan kelompok yang dibimbing penyuluhan pertanian mengenai kebutuhan pupuk untuk tanaman pangan dan holtikultura. “Syarat utama harus melampirkan RDKK dan lahannya harus ada. Sehingga, dengan begitu maka dapat tepat sasaran,” tuturnya.

Selain itu, untuk kelompok tani yang bisa mendapatkan pupuk maksimal mempunyai areal lahan tanam seluas 2 hektar. Jika diatas 2 hektar dianggap mampu dan tidak perlu lagi mendapatkan subsidi. Sehingga, diharapkan dengan adanya pupuk bersubsidi membantu petani mencapai swasembada pangan terutama untuk petani yang kurang mampu dan direalisasikan perbulan berdasarkan RDKK kapan mereka mulai menanam.

“Kalau masalah poktan yang abal-abal kita tidak tahu karena sebelumnya penyuluh melaporkan bahwa memang poktan tersebut ada. Diketahui kades dan dibina, lahan ada dan dibimbing penyuluh pembimbing lapangan (PPL),”pungkasnya. (HS-03)

Komentar
Loading...