oleh

Ratusan Hektar Tanaman Padi Terserang Hama Sundep Beluk

-Musi Rawas-351 Dibaca

Silampari Online 

MUSI RAWAS- Tanaman padi berusia antara 1-3 bulan di Kecamatan Muara Kelingi  terganggu pertumbuhannya akibat serangan hama sundep beluk. Akibatnya, batang tanaman yang terkena serangan, daunnya menguning lalu kering dan membuat proses pembuahan menjadi gagal atau hampa dan kemudian mengering bersama daun dan batangnya.

Lisin ( 28) salah satu petani Desa Mangan Jaya Kecamatan Muara Kelingi mengakui sebagian tanaman padinya yang kini berusia sekitar 1,5 bulan, sudah terserang hama.

“Saya tidak tahu apa nama hamanya.
Namun bentuknya berupa ulat berwarna kecoklatan. Hama itu bertambah ganas kalau sawah berkeadaan lembab, berair atau terkena hujan. Sebaliknya, hama melemah serangannya kalau kering,”kata Lisin kepada Silampari Online, Rabu (20/1/2021).

Dikatakannya, hama ulat itu biasanya menggeret batang padi bagian pangkalnya. Setelah terkena geretan, daun tanaman langsung layu, menguning dan kering.

“Kalau tanaman sedang berbuah, biji padi tidak berisi atau menjadi hampa,”terangnya.

Senada disampaikan Carsam (52) asal Desa Beliti Jaya mengakui tanaman padi miliknya juga terserang hama yang sama, daun padinya menggulung dan menguning. Namun, ia sudah melakukan penyemprotan tapi hama belum juga menghilang.

Terpisah, Kepala Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Kecamatan Muara Kelingi, Ispoyo membenarkan bahwa petani sawah di Kecamatan Muara Kelingi kini telah dihadapkan dengan serangan hama yang menyerang padi sawah.

Menurut ia, hama tersebut adalah Sundep atau Beluk biasanya terjadi saat musim hujan seperti saat  ini. Dimana, suhu kelembaban, dan curah hujan sangat cocok bagi perkembangan Sundep atau Beluk dan daerah yang paling banyak terkena itu di Desa Mangan Jaya yang merupakan daerah program sawah cetak dari Presiden Jokowi.

“Untuk Desa Mangan Jaya kurang lebih sekitar 100 hektar. Termasuk, di Desa Beliti Jaya kurang lebih sekitar 20 hektar. Sedangkan di Desa lainnya dalam Kecamatan Muara Kelingi relatif sedikit dan memang jumlah luasan sawahnya juga sedikit,”tutur Ispoyo.

Hanya saja, keadaan ini belum masuk dalam fase kritis hama. Akan tetapi jika tidak segera diatasi sedini mungkin dapat menyebabkan kegagalan panen. Sebab, sampai saat ini belum ada varietas yang tahan hama ini.

Selain itu, istilah Sundep dan Beluk ada pembedanya. Sundep menyerang pada fase vegetatif (fase pertumbuhan) yang ditandai dengan daun padi muda menguning tergulung lalu mengering dan mati. Sedangkan Beluk menyerang pada fase generatif (fase berbunga/berbuah) yang ditandai dengan bunga atau buah padi yg baru keluar berwarna putih, berguguran, gabahnya kosong (gabuk).

Ia menambahkan, penyebabnya adalah ulat super kecil berwarna putih yang masuk kedalam batang padi dan memotong titik tumbuh utama. Tanaman padi yang terserang Sundep bila dikendalikan dengan baik masih bisa tumbuh lagi dengan normal, karena masih bisa bertunas lagi. Sedangkan yang terserang Beluk sudah tidak bisa diselamatkan lagi karena titik tumbuh sudah putus.

Terlepas dari itu, pengendalian Sundep dan Beluk idealnya harus dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Sebab, dengan PHT maka pengendalian populasi hama tetap berada di bawah ambang kerugian. Strategi PHT tidak bersifat pemusnahan, pembasmian, pemberantasan, melainkan pembatasan. PHT menerapkan pengendalian hama dengan berbagai cara dan saling terkait, tidak hanya menggunakan satu cara saja. (Musyanto)