Saksi Beratkan Terdakwa Pembunuhan Ujang Putih

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : ISTIMEWA</div></small> <strong>KAWAL :</strong> Terdakwa Jemedi dikawal dua anggota Polres Lubuklinggau menuju sel tahanan PN Lubuklinggau, usai menjalani persidangan, Kamis (13/12).

Silampari Online,

LUBUKLINGGAU-Sidang lanjutan perkara pembunuhan Putonaki alias Ujang Putih dengan terdakwa Jumedi alias Medi (26), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau. Kali ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yuniar cs menghadirkan dua orang saksi yakni Alexander, anggota Polri dan Novi selaku Dokter Ar Bunda Lubuklinggau, Kamis (13/12).

“Sidang dengan terdakwa Jumedi dibuka dan terbuka untuk umum,” kata Majelis Hakim PN Lubuklinggau, Hendri Agustian didampingi anggota Hakim Ferdinaldo dan Tatap Situngkir dengan Panitera Pengganti (PP) Harmen, saat membuka persidangan dengan mengetuk meja hijau..

Lanjut Hendri Agustian, pihaknya mempersilahkan terdakwa Jumedi duduk disebelah pengacaranya. Lalu Jaksa Yuniar, memanggil dua orang saksi yakni Novi dan Alexander. Setelah keduanya disumpah lalu mereka memberikan keterangan tanpa ada yang dipaksa dan atas kesadaran sendiri.
“Saksi Alexander, anda sudah disumpah diatas Alquran. Silahkan sampaikan apa yang diketahui,” pinta Hakim Hendri.

Lanjut Hakim Hendri, “Apakah saksi kenal dengan terdakwa Jumedi,” Saksi Alexander dan Nopi, dijawab tidak. Terdakwa Jumedi datang ke Polsek Lubuklinggau untuk menyerahkan diri dan bertanggung jawab atau perbuatannya. “Saat itu, saya sedang piket reskrim,” kata Alexander.

Sementara saksi Novi, menyebutkan pihaknya yang berusaha memberikan pertolongan dengan pengobatan medis kepada Korban Ujang Putih, namun Tuhan berkehendak lain, hingga Ujang meninggal dunia.
“Korban Ujang menderita luka tusuk dan robek namun tidak ingat berapa banyak lubangnya,” tuturnya.

Semua keterangan saksi-saksi, diterima terdakwa Alexander dan sidang akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan terdakwa Jumedi. “Sidang ditunda dua minggu lagi, sidang akan dilanjutkan,” pungkasnya.

Sebagaimana surat dakwaan dibacakan JPU Yuniar dihadapan majelis hakim. Bahwa
Kamis (6/12) sekitar pukul 15.15 WIB, puluhan Anggota Satuan Sabhara Polres Lubuklinggau mengawal berjalannya sidang. Tak hanya itu, keluarga dan kerabat korban juga ikut menghadiri sidang di Ruang Sidang Cakra tersebut.

Para saksi tersebut yakni Naldi (21) keponakan korban, Hertina (46) istri korban dan Hendrik (33) saksi mata.
Menurut , ia mendapatkan kabar melalui sambungan ponsel dari adiknya jika korban masuk rumah sakit akibat kena tusuk, mendengar itu ia langsung pulang dan melihat keluarga sedang siap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.

“Saat tiba di rumah sakit, saya melihat paman saya (korban) sedang ditangani medis, dan saya tahu bahwa pelakunya Jumedi dari keluarga,” tutur Naldi.

Sementara Hertina, istri Ujang Putih menjelaskan saat kejadian 22 Juli 2018 petang ia sedang berada di rumah, dan tiba-tiba mendapatkan kabar dari teman korban, jika suaminya kena tusuk oleh Jumedi dan sedang dirawat di rumah sakit.

“Yang saya tahu, memang sebelumnya, Jumedi ini ada konflik dengan teman suami saya (anak buah) gara-gara masalah sewa lapak,” kata Hertina.

Sementara saksi mata, Hendrik mengatakan, ketika kejadian ia sedang berjualan list motor berjarak sekitar 20 meter dari tempat kejadian di depan gerbang Masjid Agung As-Salam. Kemudian mendengar teriakan, lalu ia langsung menuju asal teriakan tersebut, dan melihat korban telah terkapar di jalan dengan luka tusuk, sementara Jumedi seusai menusuk langsung kabur.

“Jarak saya dengan kejadian sekitar 20 meter. Dan ketika melihat korban tergeletak saya langsung membawanya ke Rumah Sakit Ar Bunda dengan menumpang mobil dengan Nopol Dinas,” tutur Hendrik.

Sedangkan berdasarkan surat dakwaan JPU, membeberkan perbuatan terdakwa ini bermula Minggu 22 Juli 2019 sekitar pukul 17.00 WIB, terdakwa sedang berjualan mi ayam di lapaknya di Jalan Garuda Hitam depan lapangan Kurma Kelurahan Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II.

Saat itu melintaslah korban dengan mengendarai sepeda motor melewati lapak jualan terdakwa dengan berkata”Oe Medi”.

Dan dijawab oleh terdakwa,”Mampir dulu mang”. Mendengar panggilan terdakwa korban pun berhenti dan turun dari sepeda motornya mendekati terdakwa.
Melihat korban turun dari sepeda motornya, terdakwa mendekati korban dan berkata ”Ininah luko aku belum kering”. Lalu karena terdakwa yang masih menyimpan sakit hati kepada korban mengeluarkan sebilah pisau dari di pinggangnya, dan langsung mengayunkan pisau tersebut ke bagian dada sebelah kiri korban. Saat itulah, korban terjatuh di tengah jalan.
Tak puas sampai di situ, terdakwa kembali menusuk tubuh korban berkali-kali ke bagian perut dan dada korban, korban sempat menangkis tikaman terdakwa, namun terdakwa tetap menusuk ke bagian punggung korban.
Lalu korban menendang terdakwa dengan kaki kirinya hingga tubuh korban terbaring di jalan dengan berlumuran darah. Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut, langsung berkumpul, melihat masyarakat berkumpul, terdakwa pun langsung kabur.

Akibat perbuatan terdakwa, korban mengalami luka tusuk bagian dada, perut, dan punggung. Korban juga mengalami luka pada bagian tangan kanan dan kiri, hingga menyebabkan korban tewas.

Oleh JPU, Jumedi alias Medi didakwa melanggar pasal 340 KUHP atau 338 KUHP dengan ancaman seumur hidup. (HS-01)