SD Negeri Tanjung Beringin Terapkan Pembelajaran Genap Ganjil

SILAMPARI ONLINE,

LUBUKLINGGAU-SD Negeri Tanjung Beringin Jln Jambi No 1 Desa Tanjung Beringin, saat ini sedang menjalankan Proses belajar mengajar secara sistem Genap Ganjil di Tahun ajaran baru 2020/2021.

Bacaan Lainnya

Proses belajar mengajar secara Genap Ganjil ini dilakukan oleh Siswa Siswi baru maupun yang lama selama kurang lebih 8 hari terhitung mulai tanggal 13 Juli 2020 sampai dengan tanggal 21 Juli 2020. “Proses ini dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, untuk yang Genap dilakukan pada hari Senin, Rabu, dan jumat, edangkan yang Ganjil itu hari Selasa dan Kamis, dan sabtu, dengan jam belajar kurang lebih 4 sampai 5 jam per hari,” jelas Kepala SD Tanjung Beringin, Safrudin, Selasa(21/7/2020).

Kepada Silampari Online,  dia mengatakan, sesuai dengan surat edaran dari pemerintah jadi pihaknya sangat bersyukur sekolahan bisa di buka kebali walaupun dengan sistem Genap Ganjil, dan siswa yang masukpun wajib memakai masker, cuci tangan, duduk dengan jarak 1 meter atara siswa yang satu dengan yang lain, dan dalam satu lokalpun itu berjumlah 10 siswa.

Lanjut Safrudin, dimasa belajar mengajar secara Genap Ganjil ini pihak sekolah juga sudah menyiapkan guru-guru profesional dan bantuan tenaga pengajar dari Mahasiswa STKIP yang magang di SD Tanjung Beringin ini. Sistem Genap Ganjil ini akan terus dilakukan selama masa New Normal. Pihak sekolah juga sudah menyiapkan masker berjumlah 204 masker yang telah di bagi kepada seluruh siswa dan guru.

Safrudin menjelaskan, pihaknya mengedepankan rasa kekeluargaan dengan motto tegakan generasi yang Cerdas, pandai, akhlak yang muliah dan menyongsong masa depan gemilang penuh dengan Skil. Dan untuk dimasa seperti sekarang siswa yang mendaftar itu meningkat 10 persen.

“Kami berharap, semoga secepatnya sekolahan bisa dibuka kembali seperti biasanya, agar siswa dan siswi bisa belajar dengan baik tanpa khawatir dengan Covid-19. Karena khawatir jika terus menerus belajar mengajar tidak dilakukan secara langsung akan mengakibatkan siswa peserta didik baru itu sulit untuk mengenal angka dan huruf, terutama menulis dan membaca,” harapnya.

Laporan : Vivin Silampari Online