SDN 2 Tegal Rejo Belajar Tatap Muka 1 Kali Dalam Seminggu

Kepala SD Negeri 2 Tegalrejo, Suyadi

SILAMPARI ONLINE,

LUBUKLINGGAU– SD Negeri 2 Tegalrejo, Jln Sekolah Desa D Tegalrejo Kecamatan Tugumulyo, saat ini sedang menjalankan Proses belajar mengajar secara sistem daring dan genap ganjil di Tahun ajaran baru 2020/2021.  Proses belajar mengajar secara genap ganjil atau  tatap muka  ini dilakukan oleh Siswa Siswi baru khusus kelas 1 dan 2, maupun kelas 4, 5, dan 6, dengan Sistem Belajar 1 kali pertemuan dalam satu minggu. Hal ini dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, jam belajar kurang lebih 1 jam per hari, Sabtu (25/7/2020).

Bacaan Lainnya

Kepala SD Negeri 2 Tegalrejo, Suyadi  ketika diwawancarai Silampari Online mengatakan, sebenarnya dari pihak Pemerintah belum boleh menerapkan Proses belajar mengajar secara genap ganjil atau tatap muka, tapi karena siswa bosan belajar di rumah dan tuntutan para orang tua siswa, pihak sekolah ber inisiatif membuka sekolah dengan 1 kali pertemuan dalam satu minggu. “Jam belajar mengajar kurang lebih 1 jam, selebihnya siswa tetap belajar secara Daring dan tetap mematuhi protokol kesehatan,” ujarnya.

Dimasa belajar mengajar secara Genap Ganjil atau daring ini pihak sekolah juga sudah menyiapkan guru-guru profesional dan bantuan tenaga pengajar dari Mahasiswa STKIP yang magang di SD Negeri 2 Tegalrejo ini. Sistem Daring  ini akan terus dilakukan selama masa New Normal.

“Pihak sekolah juga sudah menyiapkan masker  yang telah di bagi kepada seluruh siswa dan guru selama proses belajar mengajar secara daring maupun secara tatap muka satu minggu sekali itu,” jelasnya.

Suyadi menjelaskan, pihaknya mengedepankan rasa kekeluargaan dengan motto tegakan generasi yang Cerdas, akhlak yang muliah dan penuh dengan Skil. Dan untuk dimasa seperti sekarang siswa yang mendaftar itu menurun hampir 75%.

Suyadi dan pihak sekolah berharap, semoga secepatnya sekolahan bisa di buka kembali seperti biasanya, agar siswa dan siswi bisa belajar dengan baik tanpa khawatir dengan Covid-19. Karena khawatir jika terus menerus belajar mengajar tidak dilakukan secara langsung akan mengakibatkan siswa peserta didik baru itu sulit untuk mengenal angka dan huruf, terutama menulis dan membaca.” Kami khawatir jika belajar mengajar secara daring terus menerus akan membuat siswa baru sulit untuk mengenal guru dan lingkungan sekolah,” pungkasnya. (Vivin/Silampari Online)