Sekolah Pakai Rakit Bambu

<small> <div style="text-align:right;">FOTO : RAHMAT/KONTRIBUTOR HARIAN SILAMPARI</div></small> <strong>RAKIT :</strong> Anak-anak sekolah di Dusun Napal Maling, Desa Noman, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara menggunakan rakit bambu untuk berangkat dan pulang sekolah.

Silampari Online,

Sosial media dewasa ini menjadi salah satu alat komunikasi yang memiliki power tersendiri untuk menyampaikan informasi kepada khalayak banyak khususnya para pengguna internet.

Muat Lebih

Rahmad-Muratara

Hal inilah yang dilakukan Koko Triantoro, salah seorang Guru Garis Depan (GGD) yang bertugas di daerah terpencil dalam wilayah Kabupaten Muratara, tepatnya di Dusun Napal Maling, Desa Noman, Kecamatan Rupit.

Berkat postingannya di media sosial tentang aktivitas anak sekolah yang berangkat dan pulang menggunakan rakit bambu, akhirnya mendapat respon dari para donatur dan relawan untuk membangun jembatan gantung.

“Awalnya saya posting gambar dan video anak-anak pergi sekolah pakai rakit bambu, dari postingan itulah donatur dari Insan Bumi Mandiri tahu, kemudian mereka menghubungi saya, setelah itu mereka meninjau lokasi,” kata Koko Triantoro.

Dikatakan, donatur dari Insan Bumi Mandiri Bandung memberikan sumbangan sebesar Rp 70 juta rupiah. “Semua dananya digunakan untuk pembanguan jembatan gantung,” ujarnya.

Sebelumnya lanjut Koko, donatur Insan Bumi Mandiri Bandung sudah memberikan bantuan perahu untuk antar jemput anak sekolah dan bantuan pembangunan masjid.

“Ada lagi bantuan fasilitas untuk mandi cuci kakus (MCK) dari yayasan Indonesia Membangun Rakyat (IMR) berasal dari Jogja, teknisnya sama, masih lewat internet juga,” tambahnya.

Koko menuturkan, pembangunan jembatan gantung tersebut dikerjakan oleh anggota TNI dari Kodim 0406 Musi Rawas, bekerjasama dengan relawan Vertical Rescue Indonesia (VRI) dari Bandung serta masyarakat setempat.

Sementara Pasintel Kodim 0406 Musi Rawas, Kapten Inf Muhammad Asad mengatakan, pembangunan jembatan secara gotong royong itu merupakan bagian dari kegiatan karya bakti TNI bersama masyarakat.

Sehingga nantinya setelah jembatan selesai dibangun, masyarakat dan anak-anak sekolah dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tidak lagi menggunakan perahu atau rakit bambu seperti sebelumnya.

“Kami berharap kedepan TNI dan masyarakat terus bekerja sama dengan baik, karena bersama rakyat TNI kuat,” tegasnya.

Salah seorang anggota relawan Vertical Rescue Indonesia, Arief Budiman menambahkan, pembangunan jembatan gantung yang bersifat darurat itu juga sudah menjadi program Vertical Rescue Indonesia (VRI) dan Sekolah Panjat Tebing (SPT) Merah Putih.

“Pembangunan jembatan ini juga menjadi program kami, dan jembatan ini merupakan yang ke 69 di Indonesia, kalau di Sumsel baru di Kabupaten Muratara ini, kalau di Lampung sudah kita bangun 12 titik jembatan gantung darurat, paling banyak kita bangun di Pulau Jawa,” kata Arif.

Menurutnya, dalam pengerjaan jembatan tersebut memerlukan waktu sekitar 10 hari dengan panjang 75 meter. “Jika tidak ada halangan pembangunanya dapat dikerjakan selama 10 hari,” ujarnya. (*)